MENATA PENDIDIKAN PASCA BENCANA
pendidikan Nanggro Aceh Darussalam
Ketika Jepang menyerah kepada Sekutu, Kaisar
bertanya, "Berapa Guru yang masih tersisa?" dan bukanya ,"Berapa tentara yang masih ada?" ini menandakan bahwa keterpurukan sebuah bangsa hanya bisa dibenahi melalui pendidikan.
Kaisar Jepang itu tampaknya dijadikan komitmen pelaku didik asal Nanggro Aceh Darussalam (NAD). Pasca bencana Tsunami, mereka melakukan magang dan studi banding di pelbagai lembaga pendidikan, hal ini mereka lakukan sebagai upaya meningkatkan mutu dan memajukan pendidikan di NAD pasca bencana tsunami.
Al Zaytun dujadikan salah satu institusi pendidikan untuk kegiatan studi banding itu. Kegiatan dilakukan pada awal maret 2007 lalu, sebanyak 22 orang pendidik dari NAD terdiri dari beberapa kepala sekolah yang dipimp
Studi banding itu bertujuan untuk melihat kurikulum, administrasi dan pelaksanaan pembelajaran. Aceh Sedang berusah untuk bangkit dari keterpurukan akibat bencan tsunami beberapa tahun yang lalu, beberapa sekolah rusak total. Ada satu sekolah yang siswanya tinggal satu. Bahkan ada juga sekolah seluruh siswa dan gurunya menjadi korban tsunami, namun kini sudah bangkit kembali. Banyak bantuan mengalir, bangunan sekolah sudah dibangun 20 % dari seluruh sekolah yang rusak akibat tsunami beberapa tahun yang lalu. Bahkan bantuan guru poengajarpun juga ada dan kini mereka magang dan studi banding kebeberapa sekolah ungulan di Indonesia. setelah kembali dari melalang buana untuk mempelajari tentang kurikulum, administrasi dan manajemen dari beberapa sekolah unggulan tersebut, mereka akan merancang kurikulum, administrasi, manajemen dan pelaksanaan pembbelajaran yang cocok untuk daerahnya. Intinya mereka ingin menata pendidikan NAD pascabencana tsunami menjadi lebig baik.
dalam studi banding ini, Rombongan Diknas NAD dipandu salah satu ustazd, sebelum berkeliling mereka mendapat pengarahan secara singkat tentang Al Zaytun di pendopo tamu, setelah itu mereka diajak thawaf untuk melihat sarana dan prasarana yang ada di Al Zaytun. Saya salut terhadap Al Zaytun karena bisa menjalankan program pendidikan satu pipa seperti ini? kata ibu Aminah, salah satu kepala sekolah yang ikut rombongan itu setelah mendapatkan penjelasan dari pemandu tentang sistem pendidikan di Al Zaytu.