The Nature Conservacy (TNC) mempublikasikan sebuah penelitian yang menyebutkan 85% terumbu karang tempat hidup tiram telah
lenyap. Mike Beck, penulisnya, menyimpulkan susunan terumbu karang tempat tiram/kerang hidup adalah habitat laut yang memang rentan. Praktik menjaring ikan yang keliru dan buruknya pengembangan pesisir menyebabkan fungsi terumbu karang berkurang.
Penelitian tersebt menemukan sejumlah terumbu karang punah secara fungsional di beberapa kawasan, antara lain Amerika Utara, eropa dan Australia. Great south Bay, New York, Amerika Serikat merupakan salah satu kawasann dimana kerang menjadi komoditas utama. Sektor perikanan memproduksi 700 ribu gantang kerang liar per tahun, atau separuh tangkapan negara itu.
Sayangnya, penangkapannya tidak memperdulikan keberlanjutan ekosistem. Terjadi penurunan panen kerang sebesar 1% dibandingkan dengan panen puncak sepanjang dekade 1970. Hal itu diakibatkan pergeseran ekosistem. Kerang memiliki peran penting bagi ekosistem di sekitarnya. Ia berfungsi sebagai penyuling air, penyedia pakan bagi organisme lain seperti ikan, kepiting dan burung. Akibat jumlah kerang menyusut, air di teluk tersebut tak lagi tersuling dengan sempurna. Ombak berwarna kecoklatan pun membawa alga berukuran mikro menyebar ke segala penjuru. Ledakan populasi tersebut membunuh kerang lain. Selain itu, juga mengalangi pancaran matahari menembus ke laut, tempat rumput laut tumbuh.
Menurut ilmuwan, ada beberapa pemicu di balik rusaknya terumbu karang tersebut. Antara lain meliputi praktik tangkap ikan yang merusak, pembangunan yang melampaui kapasitas pesisir, buruknya manajemen perkebunan, dan buruknya kualitas air. Laporan tersebut menyebutkan ada dua rintangan utama yang mengganggu upaya pemulihan kerang. Pertama, masyarakat kurang sadar bahwa habitat kerang punya problem. Kedua, kerang yang berasal dari tempat lain bisa diintoduksi ke kawasan yang spesies kerangnya sedang menipis.
Laporan tersebut mengajukan sederet rekomendasi. Anjuran terpenting adalah menaikkan tiram liar asli ekosistem setempat sebagai spesies prioritas dalam konservasi. Selain itu, pemerintah dunia diminta memperluas kebijakan proteksi untuk melindungi terumbu karang yang kondisinya rentan.