Amos Palu seorang
guru SMKN di Miangas pulau terluar bagian utara Indonesia. Beliau seorang guru dan juga seorang penjaga
sekolah begitu hebatnya ia merintis SMKN yang kini mulai berkembang. Dari awal kedatangannya tahun 2006, ia hanya seorang diri untuk mengajar di SMK yang terdiri dari satu kelas dengan 11 orang murid. Dia terharu ketika itu, karena tidak ada seorang pengajar pun bagi murid-murid tersebut.
Akhirnya, Amos Palu mengajak warga Miangas yang pernah mengenyam pendidikan untuk membantu mengajar siswa tahun pertama. Dan hasilnya ia memiliki 4 tenaga pengajar bantu yang bergaji hasil bumi dan uang Rp 100.000 - 200.000 per bulan.
Untuk alat-alat sekolah, pemerintah menjanjikan anggaran 32 juta per tahun. Namun dari tahun-tahun sebelumnya SMK itu maksimal hanya mendapatkan 6 juta untuk bantuan alat. Dan terpaksa, para
guru itu merogoh koceknya sediri demi melihat anak didiknya bisa berkembang maju.
Bagaimana dengan kita, yang nota bene adalah hasil didikan mereka, menyikapi hal tersebut?