Kompas.com 28 September 2009 menuliskan berita kesehatan mengenai stres yang mampu menyebabkan kerontokan rambut. Jenis stres
ini disebut
telogon effluvium. Dalam kondisi stres ini, baik fisik maupun emosional, yang dipicu akibat kematian anggota keluarga, kehamilan, menjalani operasi, akan menyebabkan rambut dalam fase tumbuh menjadi beristirahat. Akibatnya, rambut jadi lebih rapuh dan mudah rontok saat mengalami perlakuaan sehari-hari semacam menyisir atau keramas.
Sementara psikiatri dari Rumah Sakit St. Louis, AS, Daniel K Hall-Flavin, MD, mempunyai pendapat, pada beberapa orang, stres yang memicu kerontokan rambut juga bisa disebut
alopecia areeata. Dalam kondisi ini, sel darah putih menyerang folikel rambut dan menyebabkan rambut berhenti tumbuh.
"Dalam hitungan minggu, rambut akan rontok. Kerontokan dimulai dari sebagian kecil atau bisa langsung banyak sehingga terlihat botak," kata Flavin. Bukan hanya di bagian kepala, rambut di bagian tubuh lainya bisa ikut rontok.
Namun kondisi kerontokan tersebut sifatnya sementara, "Bila masalah yang menyebabkan stres tersebut hilang maka rambut akan kembali tumbuh," kata Flavin