MENGUBAH ANCAMAN MENJADI PELUANG
Indonesia Mengalami harga pangan
yang tinggi setahun terakhir. Tingginya harga pangan Menimbulkan kekhawatiran masarakat. Pada Januari 2008, Pedagang tahu & tempe berdemontrasi di depn Istana Merdeka menuntut penurunan harga kedelai yang mayoritas masih diimpor. Harga pangan pokok, beras, juga bergerak naik, sementara pemerintah mengatakan, produksi terus naik harga bahan pangan lain, seperti jagung, minyak goreng, dan terigu, juga naik lebih dua kali lipat. Naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) dan kelangkaan pupuk juga menyebabkan biaya produksi pangan meningkat. Tingginya harga pangan memunculkan kekhawatiran terjadinya gejolak sosial. Namun, yang harus lebih diwaspadai adalah menurunnya kualitas hidup sebagian besar masarakat. Organisasi pangan dan pertanian ( FAO ) dalam kertas kerja Konferensi Tingkat Tinggi Keamanan Pangan Dunia di Roma awal juni 2008 mengingatkan meskipun secara nasional konsumsi pangan masarakat tidak menurun akibat naiknya harga pangan, perubahan nyata pada konsumsi bahan pangan lain yang lebih bergizi, Situasi kurang gizi dapat terjadi berkepanjangan akibat, penurunan kualitas manusia yang disebut ( Economist disebut Silent Tsunami ). Oleh Karena itu ada dua perubahan yang terjadi Perubahan struktural, promosi dan proteksi.
PERUBAHAN STRUKTURAL :
Kenaikkan harga pangan bukan sekali ini saja terjadi meskipun dalam nilai riil kenaikan harga pangan utama dunia saat ini yang tertinggi dalam 30 tahun terakhir. yang membedakan dengan kenaikkan sebelumnya adalah keterkaitan erat diantara pasar komoditas pertanian akibat kenaikkan jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi, terutama di China & India, juga keterkaitan antara harga komoditas pertanian dan yang lain, seperti BBM, bahan bakar nabati, dan instrmaent pasar uang yang meningkatkan harga dan permintaan pangan serta melemahnya nilai tukar Dollar AS terhadap banyak mata uang lain.
Situasi saat ini juga berbeda karena diiringi volatilitas harga lebih dari sebelumnya. Hal ini mengindikasikan tipisnya pasokan pangan serta keterkaitan pasar komoditas pangan.
PROMOSI DAN PROTEKSI :
Situasi Di atas menuntut pemerintah merespons dengan kebijakan yang cepat dan cermat melalui promosi dan proteksi pertanian untuk melindungi petani kecil, orang miskin, dan kelompok marjinal dari persaingan pasar bebas yang tidak adil. Tingginya harga pangan selain ancaman sebenarnya juga peluang untuk petani kecil sepanjang biaya produksi, seperti harga pupuk dan benih tidak naik melebihi biaya produksi petani dan tersedia tepat waktu, infrastruktur antara lain, pengairan dan transportasi terjamin, dan ada kebijakkan yang memberi akses petani kecil dan buruh tani memanfaatkan lahan tidur. Pembiayaan untuk produksi tanaman pangan padi, palawija, dan tebu selayaknya di perbesar dari yang saat ini kurang dari Rp. 5 triliun, sementara pembiayaan unyuk satu kompleks apartemen bisa mencapai 8 triliun. Promosi juga dapat diberikan melalui akses pasar di dalam dan luar negri serta kebijakan argoindustri pedesaan agar petani menikmati harga pangan yang tinggi sehingga mereka terangsang berproduksi dan meningkatkan pendapatannya. Upaya mendorong swasta besar domestik dan asing berinvestasi di bidang pertanian, khususnya pangan, harus dipikirkan cermat dan hati-hati serta tetap memerhatikan kepentingan petani kecil, kelompok marjinal, dan masarakat lokal. Pengembangan pangan lokal benar-benar dilaksanakan untuk kemandirian dan kedaulatan pangan. Jangan sampai terulang kebijakan investasi kelapa sawit yang berorientasi pada asing dan swasta besar. Operasi pasar minyak goreng sepertu tertelan bumoi dan harga tak beranjak turun meski Indonesia salah satu produsen minyak sawit. Di sisi lain, proteksi tetap diperlukan, antara lain untuk merespon perubahan iklim dan eksternalitas yang terjadi akibat kerusakkan lingkungn, Selain proteksi dan lonjakkan harga karena pasar bebas komoditas duni serta penyelundupan. Perhatian juga harus diberikan kepada masarakat di daerah terpencil dan pulau-pulau terpencil. Hanya respon kebijakkan pemerintah yng cepat, cermat, dan dilaksanakan dengan baik hingga ke produsen dan konsumen yang dapat mengubah ancaman menjadi peluang meningkatkan kesejahteraan petani kecil dan kelompok tertinggal.