• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

.

Kompas

oleh : edwardarif    


Jalur Gaza sejak 27 Desember 2008 perang Israel dengan Hamas telah membuat anak-anak trauma, tak mau makan, dan diam. Memang
perang tak pernah dapat membedakan jenis kelamin, usia, para pejuang tempur, atau warga sipil tak berdosa.
Sejak Israel menyerbu Jalur Gaza dengan mortir dan peluru kendali, disusul dengan serangan darat, seluruh sendi kehidupan di jalur Gaza langsung ambruk.  Dari sekitar 1,5 juta penduduk Jalur Gaza, ratusan ribu warga tak berdosa menjadi korban.
Derita sebenarnya yang menimpa warga Jalur Gaza barangkali jauh lebih dahsyat dari sekadar angka korban tewas sekitar 689 orang dan lebih dari 3.000 orang cedera.  Aliran air dan fasilitas rumah sakit hancur berantakan dan pasokan makanan terhenti.
Sekitar 50 persen penduduk Jalur Gaza adalah anak-anak. Dari korban tewas, 220 diantaranya adalah anak-anak berusia di bawah 17 tahun, sebagaimana disaksikan kepala bidang darurat Jalur Gaza, Moawiya Hassanein.
Anak-anak yang selamat pun akan menghadapi masalah. Mereka terkejut, menangis, untuk sebuah alasan yang tidak mereka tahu karena ada yang berusia di bawah lima tahun. "Masalah yang dihadapi anak-anak akan meningkat karena keluarga mereka terpaksa melarikan diri menghindari serangan dan sebagian rumah mereka telah rata dengan tanah."demikian pernyataan Yayasan Save the Children (Inggris).
Anak-anak trauma, hidup dengan ketakutan akan ledakan berikutnya mungkin menghancurkan tempat tinggal mereka. "Banyak anak yang berhenti makan. Mereka kehilangan gairah sebagaimana halnya anak-anak yang biasanya aktif, dan mendadak menjadi pendiam," kata Sajy Elmaghinni dari Badan PBB untuk anak-anak (Unicef) di Jalur Gaza.
"Kini anak-anak takut kegelapan, yang justru menjadi masalah karena tak ada aliran listrik,"kata Elmaghinnni yang rumahnya sendiri pun tidak lagi dilairi listrik dalam lima hari terakhir.
"Mereka tak bisa bermain, tak bisa tidur, tak bisa pergi ke sekolah,"kata Benedict Dempsey dari Save the Children.
Ini merupakan tragedi baru. Sebelum serangan Israel, sekitar 50.000 anak Palestina sudah kekurang gizi akibat blokade Israel selama 18 bulan terakhir di Jalur Gaza.
Elmaghinni kini khawatir karena istrinya sedang hamil sembilan bulan. "Saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya hanya bisa berdoa anak saya jangan lahir dulu karena kondisi sedang begini."Katanya.
Warga hidup dalam ketakutan. Jalanan lenggang. Jika ingin melakukan sesuatu, tidak ada pilihan. Berjalan ke sebuah tempat, hanya menghadapi risiko terkena serangan. Tinggal di rumah-rumah pun, tak ada jaminan aman dari kematian.
Rumah ibadah dan kantor-kantor pemerintahan pun tidak lagi berani dijadikan sebagi tempat pelarian karena turut menjadi sasaran serangan.
Sejumlah pejuang Palestina, disampaikan beberapa saksi, memang terkadang bersembunyi di balik kerumunan orang.  Namun, sebagian besar warga sipil tewas justru karena bombardir Israel yang membabi buta.
Seorang petani, sebagaimana ditayangkan televisi AlJazeera, kehilangan empat anaknya karena serangan Israel. "Kami bukan orang berbahaya. Saya hanyalah seorang petani, yang Anda tahu pasti tak punya kemampuan melawan,"kata bapak petani itu yang ahnya bisa mengusap-usap kepala anak-anaknya yang sudah terkulai tak bernyawa.
Pihak Israel menegaskan berusaha sebaik mungkin meminimalkan warga sipil. Chris Gunnes, Juru bicara badan bantuan PBB di Gaza, mengatakan, sesungguhnya sudah menjadi pengetahuan umum di kalangan perencana militer, penggunaan kekuatan secara berlebihan seperti yang dilakukan Israel hanya membuat jatuhnya korban warga sipil sulit dihindarkan.
Diterbitkan di: Januari 08, 2009
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.