Sungguh miris sekali kalau kita melihat kenyataan bahwa sinetron-sinetron yang ditayang kan dibeberapa stasiun televisi swasta, untuk kebanyakan orang masih dianggap sebagai cerita menjual mimpi, ceritanya terlalu dibuat-buat,dan yang tak kalah memalukan adalah konon sebuah rumah produksi (produser?) tidak segan-segan untuk menjiplak serial asing dan berharap meraih kesuksesan seperti di negara asalnya, hanya dengan mengganti nama pemain, sedikit merubah alur cerita, dan sedikit 'mempermak' judul aslinya, maka semuanya dianggap beres.
Mereka benar-benar mempertaruhkan reputasi mereka hanya untuk mendapatkan keuntungan semata.Dan tentu saja mereka berani melakukan itu bukannya dengan tanpa alasan sama sekali.Suka atau tidak, menonton 'cinta fitri' ataupun 'cahaya' seolah sudah menjadi '
schedule tetap' ibu-ibu ataupun remaja putri setiap harinya,Sinetron tersebut biasanya ditayangkan pada saat-saat 'prime time' atau saat-saat iklan-iklan sedang ramai-ramainya berseliweran dilayar teve, dan artinya? tentu saja semua itu berhubungan erat dengan keuntungan (baca: uang).
Nah begitu ketahuan kalau
sinetron mereka itu 'jiplakan' karya orang lain, mulai dech mereka matian-matian 'ngeles', dengan mengatakan 'ya memang sedikit mirip', atau 'ya itu terinspirasi dari serial anu'.Sampai kapan mereka-mereka yang membuat sinetron itu bisa berlindung dibalik kata 'sedikit mirip' atau 'terinspirasi'.Percayalah..kalau kita menjiplak sebuah karya orang lain, kita tidak akan mungkin bisa menyamai karya yang kita jiplak tersebut.Sampai kapan pun.Ibaratnya begini, kalau tetangga sebelah rumah di komplek kita tinggal berjualan gado-gado,dan gado-gado nya tersebut sudah terkenal enaknya ke seantero komplek, terus kemudian kita ikut-ikutan jualan gado-gado, wah itu sih sama saja dengan 'bunuh diri'.Satu -dua hari kita jualan, mungkin masih ada yang membeli, tapi beberapa hari kemudian para pembeli mungkin akan membandingkan gado-gado kita dengan gado-gado tetangga kita yang sudah terkenal dengan kelezatannya yang T-O-P-B-G-T itu.Apalagi kalau gado-gado yang kita buat ternyata 'biasa-biasa' saja, maka para pembeli akan lebih mudah menentukan kemana dia harus membeli saat menginginkan gado-gado yang pas dilidah.
Intinya, saya berharap para '
sinetron makers' di indonesia bisa mengambil sedikit 'pelajaran' dari cerita tentang 'penjual gado-gado' itu, bisa lebih kreativ dalam membuat sebuah karya, dan yang tidak kalah penting adalah agar lebih bisa lagi menghargai hasil karya orang lain, jangan hanya asal
comot seenaknya, demi keuntungan semata.. Saya yakin, banyak masyarakat kita yang sebenarnya sangat menantikan sebuah sinetron atau film bermutu yang benar-benar karya anak bangsa, yang apabila saat nanti kita menontonnya, kita tidak akan mengerutkan kening, lalu berkata pada rekan kita didekat 'lho ini kan mirip serial
anu..'.
Dan salah satu serial teve asing yang pernah sukses saat ditayangkan di Indonesia, bahkan di negara-negara Asia lainnya adalah Winter sonata. Sebuah kisah romantis Kang Jun-sang dan Jung Yu-jin yang penuh tragedi dan penuh liku tapi akhirnya berakhir dengan
happy ending saat Jung Yu-jin menemukan kembali cintanya yang 'sempat hilang' itu, setelah sebelumnya hampir saja ia menjadi milik Kim Sang-hyuk,teman masa kecil Yu-jin yang diam-diam juga mencintainya itu.Serial ini benar-benar meraih sukses di banyak negara yang menayangkannya, dan saya tidak tahu, apakah ada produser di Indonesia yang ingin ikut 'mendapatkan untung' dengan menciptakan 'Winter sonata' versi indonesia,misalnya?
Saya tidak akan membahas lebih lanjut tentang winter sonata, karena teman-teman mungkin sudah mengetahui banyak tentang serial yang konon akhirnya dikatakan sebagai
korean wave karena dampaknya yang benar-benar luar biasa itu, bukan hanya di negeri nya sendiri, tapi serial ini juga seperti wabah yang dengan cepat menyebar ke negara tetangga seperti jepang ataupun Thailand. Tapi tahukah kita salah satu tempat yang dijadikan sebagai tempat penggambilan gambar serial ini?.lalu apa yang kemudian terjadi dengan tempat tersebut setelah
winter sonata mengambil gambar disitu?
Kalau kita menonton winter sonata pasti ingat dengan adegan saat Kan Jung-sang membonceng Yu-jin dengan sepeda di pinggiran sebuah danau atau juga adegan saat Jun-sang dan Yu-jin duduk berdua disebuah bangku sambil membuat boneka salju,lalu tiba-tiba Jun-sang mendaratkan
first kiss nya dibibir Yu-jin.Kita mungkin setuju, bahwa itu adalah salah satu adegan yang paling kita suka dari serial ini, sekaligus sebagi adegan yang membuat kita merasa 'merinding'. Dan suasana tempat itu seolah semakin menambah kekuatan serial ini.Pulau Nami adalah nama tempat dimana adegan-adegan tersebut diambil, dan akan semakin terlihat 'cantik' kalau musim gugur sudah 'menyambangi' pulau ini.
Winter sonata's side effect ternyata benar-benar hebat.Pulau Nami, yang mungkin sebelumnya hanya dikenal oleh orang-orang Korea selatan sendiri, atau bahkan mungkin hanya orang-orang yang tinggal di kota Chuncheon-si , ternyata akhirnya menjadi buah bibir setelah winter sonata ini.Orang yang berkunjung ke Korea selatan, terlebih lagi itu adalah remaja, terlebih lagi kalau mereka adalah pasangan dan teristimewa lagi kalau mereka termasuk orang-orang yang terkena
syindrom winter sonata, pasti mereka akan mencantumkan pulau ini sebagai salah satu tempat wajib yang harus dikunjungi selama mereka berada di negeri ginseng tersebut.Mereka mungkin berharap akan menemukan spirit cinta Jun-sang dan Yu-jin dan berharap itu akan berlaku pada hubungan cinta mereka dengan pasangannya masing-masing.Bagaimana dengan anda?Apakah anda berniat ber-winter sonata di Pulau Nami dan berharap akan menemukan spirit yang sama selayaknya Jun-sang dan Jung Yu-jin dengan kisah cinta mereka?
Korean Tourism Organization (KTO) sendiri tampaknya jeli menangkap penomena tersebut.Dan tahu bagaimana cara 'mengolah' penomena winter sonata di pulau Nami tersebut.Misalnya dengan menata fasilitas dan 'tampilan' Pulau Nami yang lebih dipercantik, ataupun dengan menyelenggarakan berbagai pagelaran seni yang diadakan di Pulau tersebut.Dan sekali lagi menurut mereka, pemerintah benar-benar mendukung langkah-langkah tersebut.Itu mungkin yang akan melegakan orang-orang yang berniat berkunjung ke pulau ini, karena itu artinya mereka akan menemukan berbagai 'kemudahan' sebagai kompensasi dari keinginan Korean Tourism Organization untuk menambah volume kunjungan wisatawan yang setelah demam winter sonata ini rata-rata per tahun kunjungan wisatawan ke Pulau ini meningkat menjadi 1,6 juta wisatawan dari yang sebelumnya hanya 200.000 wisatawan.