Ringkasan Opini, Kompas 5 April 2008:
Bersama kita bisa, Berpisah pun kita biasa, Oleh Rocky Gerung Kesulitan ekonomi adalah fakta sosial yang makin mengkawatirkan. Fakta itu boleh saja dibantah oleh statistik resmi pemerintah namun keluhan rakyat tidak bisa dibantah dengan metodologi apapun.Kelompok oposi mengeksploitasi isu ini. Pemerintah agaknya lebih berfokus menjaga keseimbangan politik dengan parlemen daripada bekerja untuk pemulihan ekonomi.public memang mengetahui ada pembagian kerja antara presiden
dan wakil presiden. Soal ekonomi menjadi urusan wapres. Tetapi bukankah wapres sendiri adalah ketua sebuah partai sehinga,mau tidak mau kebijakan ekonominya dikendalikan oleh partai? Kendati koordinasi ekonomi secara formal ada di tangan Menko Perekonomian,kedudukan politik wapres tentu amatlah menentukan. Dalam kontribusi semacam itu,tim ekonomi kabinet seperti terbelah dua rasionalitas:politik dan ekonomi. Kita dapat bayangkan kesulitan psikologis para menteri yang mengalami
political schizophrenia semacam itu. Konvensi Parlementerian Sejak awal presiden sudah memperoleh legitimasi luar biasa dari sistem presidensial. Kekeliruanya adalah ia terlalu kawatir dengan basis dukungan partai Demokrat yang kecil,ia lupa bahwa konsekwensi pemilu langsung telah memberi dia dasar legiimasi yang amat kokoh. Kekawatiran itulah yang dipakai oleh parlemen untuk tampil overpowering sehingga kita sekarang berada dalam sistem pemerintahan presidensial,tapi dengan konvensi politik parlementarian. Inilah kontruksi politik yang melatari semua kekacauan dan kerumitan hubungan politik antara presiden dan parlemen selama ini. Puncak dari kekacauan ini adalah peluang politik parlemen untuk meneruskan hak interpelasi menjadi pintu masuk untuk permazulan. Politik adalah soal urgensi kepentingan. Itu berarti suatu spekulasi tentang impeachment tetap harus masuk dalam kalkulasi politik presiden. Ini tentunya memerlukan konsolidasi politik dan ujung-ujungnya terjadilah tukar tambah kekuasaan dengan partai-partai utama di parlemen.Kita lihat nanti pasca pemilihan Gubernur BI apakah perbaikan ekonomi yang diutamakan presiden ataukah tansaksi politik? Jika mutu parlemen itu cukup tinggi overpowering itu menjadikan analisis atau niat etis para politisi untuk memajukan kualitas demokrasi melalui kontrol politik yang rasional dan institusional. Namun bila sebaliknya mutu parlemen adalah belum bebas dari perilaku korupt,maka overpowering hanya menjadi alat untuk transaksi bisnis. Faktor inilah yang mencemaskan kita. Tidak ada pelajaran bermutu yang perlu dilanjutkan dalam pola itu.
Defisit Legitimasi Dalam situasi seperti ini bisa mempengaruhi situasi politik yang memang belum memunculkan figur pemimpin alternatif. Dalam situasi kesulitan ekonomi sekarang ini menjadikan spekulasi pesimistis terhadap masa jabatan kedua SBY pada 2009 nanti. Apakah arti analisis ini?. Artinya bahwa presiden SBY selama ini belum memerintah. Ia masih melakukan konsolidasi politik, sebaliknya Yusuf Kalla sudah lama memerintah. Pemilu masih setahun lagi ia sudah berkampanyae:Bersama kita bisa, berpisah pun kita biasa. (Rocky Gerung, Pengajar Filsafat FIB, UI.
Diringkas oleh: *Agust Nasihin,Penulis aktif di blog dan,Meresensi buku, membuat ringkasan tulisan dan artikel-artikel lainya, Anda bisa bergabung di
http://id.shvoong.com/aff-5398E/ &
http://www.sitesell.com/netsell13.html atau berkunjung di
http://id.shvoong.com/tags/agust-nasihin/ &
http://goeswriting.wordpress.com
Resensi lain tentang Kompas