Kompas
Summary ratings: 3 stars
(xx voters)
Kunjungan:
14
kata:
600
Diterbitkan di: Maret 30, 2008
Ini adalah kisah Ian Kasolo selebritis yang gagal.
Singkat cerita, Ian Kasolo awalnya tertarik dengan iklan-iklan
di surat kabar yang menawarkan mimpi-mimpi indah untuk menjadi artis,
karena merasa memilki kemampuan menyayi dan akting, maka Ian pun
memilih kontes dangdut TPI I, dan melamar untuk mengikuti seleksi
tersebut. Ian ternyata sukses pada tahap seleksi, terbukti dengan ia
berhasil lolos dan menyingkirkan ribuan pererta seleksi lainnya.
Karena berhasil lolos seleksi, Ian pun rela meninggalkan
pekerjaannya sebagai kurir di Solo, padahal penghasilannya sebagai
kurir terbilang cukup lumayan, yaitu sebesar 1 juta rupiah per bulan.
Tetapi demi mimpi menjadi artis sungguhan, Ian rela meningalkan
semuanya dan berangkat ke Jakarta untuk mengikuti audisi. Karena
menurut Ian, juara dari peserta kontes dangdut TPI I ini akan dikontrak
untuk menjadi artis di televisi.
Kehidupan selama mengikuti audisi bagaikan raja. Ian bersama
dengan teman-teman peserta audisi lainnya tinggal di villa, dan jika
ingin makan, tinggal tunjuk saja ingin makan di restoran mana
sesukanya. Berbeda sekali dengan kehidupannya waktu di Solo, tinggal
berdesakan di rumah petak 3 x 4. Karana melihat glamournya kehidupan
sekarang, maka Ian semakin bertekat untuk menang dalam kontes ini.
Tidak tanggung-tanggung Ian menghabiskan uang 5 juta per minggu untuk
membeli voucher dan meng-sms dirinya sendiri, celakanya lagi uang itu
ia peroleh dari meminjam kepada keluarga dan rentenir.
Tetapi apa mau dikata, ternyata nasib berkata lain, Ian tersingkir
dalam perjalannya.
Setelah kontes selesai, Ian sempat mendapatkan tawaran untuk
bermain sinetron dan mengisi acara menyayi, bayarannya juga tidak
seberapa seberapa jika dibandingkan dengan artis-artis yang sudah
nge-top, cuma antara 500rb – 1,5 juta rupiah. Setelah itu Ian tidak
pernah mendapatkan tawaran pekerjaan lagi.
Ian sempat hidup menggelandang, dan pernah 2 hari tidak makan.
Ingin pulang ke kampung halaman Ian malu karena sudah terlanjur
dianggap sebagai artis terkenal di Jakarta.
Karena keadaan memaksa akhirnya Ian menumpang di rumah salah
seorang temannya yang juga merupakan salah satu peserta kontes dangdut
tersebut. Ian membantu istri temannya tersebut menjalankan usaha
katering, setiap pagi Ian bangun jam 5 untuk membantu istri temannya
memasak, dan kemudian mengantarkan katering ke rumah-rumah
pelanggannya.
Bagi Ian sekarang yang penting ada tempat berteduh dan bisa makan sehari-hari.
Kesimpulan: Jadi artis memang menyenangkan, tetapi semua kesenangan itu tidak bisa diperoleh dengan cara yang mudah.