Seperti yang dikatakan Benny Susetyo PR, dalam artikel berjudul: Tanda-Tanda Ramalan Ronggowarsito (H.U. Sinar Harapan)bahwa
realitas sosial kita sedang berada pada zaman edan. Sekarang telah
terjadi, seoranga manusia waras dianggap tidak waras, dan penjahat
negara dianggap pahlawan. Menurut Sastrawan abad ke-19 ini sebaik-baik
orang di zaman edan adalah mereka yang ingat dan waspada (eling lan waspadha). Pada
hari tanggal 4 Maret 2008 lalu, WS Rendra memperoleh gelar Doktor
Honoris Causa dari UGM dalam bidang kebudayaan. Sangat tepat jika
beliau dalam orasi ilmiah pengukuhan sebagai Doktor melontarkan
kritikan bagi bangsa ini. Ia mengatakan bahwa Indonesia sekarang sedang
berada pada zaman kalabendu. Ia pun menguraikan bahwa zaman di
Indonesia berputar pada ketiga zaman yang diramalkan
oleh seorang
sastrawan Jawa di atas. Pertama, zaman kalathida; yakni zaman
edan sebab
akal sehat diremehkan. Kedua, zaman kalabendu; yakni zaman
hancur dan rusaknya
kehidupan karena
tata nilai dan tata kebenaran
dijungkirbalikkan. Ketiga, zaman kalasuba; yakni zaman stabilitas dan
kemakmuran yang
akan ditegakkan oleh Ratu
adil yang banyak dinantikan
(Kompas, 05/03/2008). Seharusnya, ramalan di atas, karena
sesuai dengan konteks ruang-waktu yang bergulir di Indonesia, ia pun
menyarankan bahwa untuk mewujudkan zaman kalasuba, di negeri ini harus
ada semacam hukum yang adil. Karena, selama ini hukum serasa tidak
bersikap adil kepada publik. Saya pikir, gagasan tafsir
kontekstual yang ditawarkan oleh Budayawan Indonesia ini memang sangat
menggugah kita. Untuk terus memperjuangkan tegaknya hukum yang adil di
Indonesia. Hukum yang tidak dijajah oleh segepok uang kekuasaan.
Sehingga alam demokrasi di negeri berpuluh ribu pulau ini tidak
terkotori oleh laku-kata yang diwariskan pada zaman kalathida dan
kalabendu. Di depan saya yakin zaman kalasuba sedang menanti
gerak langkah pemimpin yang tidak menggunakan logika pasar dalam
menegakkan keadilan perangkat hukum. Jangan berlaku mungpung berkuasa,
kedaulatan rakyat pun pantas diperkosa dan ditelanjangi. ***
Resensi lain tentang Kompas