Wisata budaya yang belum Bernilai jual, Budaya
memang tidak hanya
memiliki nilai seni, nilai moral, atau nilai magis, Budaya juga memiliki nilai ekonomi. Budaya
dapat “dijual” untuk menarik wisatawan
dan menjadi mesin uang penyumbang devisa Negara. Itulah sederet kalimat yang dijadikan kata pengantar pada sebuah artikel yang dimuat pada harian KOMPAS. Sengaja atau tidak sengaja sang penulis seakan mengajak
kita untuk menyadari betapa kayanya negeri yang kita cintai ini akan kebudayaan,kebudayaan yang mungkin dapat kita manfaatkan sebagai salah satu daya tarik wisatawan Manca Negara untuk dapat berkunjung ke Indonesia, namun apa daya kurangnya Promosi menjadikan kebudayaan kita hanya sekedar budaya warisan Nenek Moyang saja,.mungkin kita masih jauh dengan Negara tetangga kita seperti Malaysia dengan “Truly Asia”nya atau dengan Vietnam debgan paket wisata tur kebekas medan perang. Salah satu budaya yang ingin diungkap sang penulis adalah budaya Melayu, seni tradisi kebudayaan Melayu pun tak alang kepayang banyaknya,. Tarian dan nyanyian Melayu, tradisi
teater Bangsawan, teater makyong, orkes Melayu, pencak silat, hingga permainan tardisional seprti gasing, dan layang-layang..namun apa daya kurang nya promosi menjadikan kebudayaan itu seakan hanya menjadi semacam hiburan pada acara-acara tertentu, seperti penyambutan para Pejabat atau pada HUT kemerdekaan RI saja. Sayang memang kebudayaan seperti teater bangsawan yang perlu dilestarikan tidak mampu dilestarikan dengan sebaik-baiknya lantaran tidak memiliki “nilai jual” artinya teater ini tidak dapat dipromosikan kedunia pariwisata.setidaknya itulah yang dikatakan Ibrahim Ahmad , salah satu sutradara teater bangawan. Riau–lingga itulah kota yang mempunyai banyak sekali kebudayaan melayu namun apa daya kurangnya dukungan pemerintah provinsi kepulauan Riau dan Pemerintah kabupaten lingga menjadikan kebudayaan Riau-Lingga tersebut kurang memiliki nilai jual. Mungkin memang ada benarnya jika kita meniru apa yang dilakuan oleh Malaysia, Vietnam atau bahkan Singapura yang memiliki tempat-tempat yang suatu budaya tertentu seperti “China Town”, “Litte India”, Malay Village”, “Chinese and Japanese Garden”, Persoalanya Promosi saja memang tidak cukup tanpa adanya dukungan pengelola Obyek Wisata dan pengembang potensi wisata yang ada, untuk itu pengembangan Infrastuktur memang perlu dilakukan,. Pemerintah daerah harus gencar membangun Infrastuktur untuk memberi kenyaman kepada pendatang baik turis domestik maupun Manca Negara, misalnya akses transportasi, dermaga kapal, fasilitas penginapan dan Restoran..bahkan bupati linggapun mengharapkan adanya investor mau melirik sector pariwisata ini karena selama ini investor lebih tertarik terhadap sektor Pertambangan. Bahkan Gubenur Kepulauan Riau pun menghimbau kepada Pemda-pemda untuk dapat membangun infrastruktur di daerah, “The Magic of Infrastruture” menurut beliau kalau infrastruktur dibangiun akun mengundang investasi masuk dan orang dating, jadi jangan menunggu orang datang baru membangun infrastuktur. Malaysia dengan”Truly Asia”, Vietnam dengan “Hidden charm”, singapura dengan “uniquely Singapore” lalu bagaimana dengan kita yang pemerintah sendiri sudah mencanangkan ”Visit Indonesia”dengan target wisatawan 7 juta, melengkapi itu semua barang kali Indonesia perlu mempromosikan dan “menjual” kekayaan budaya dan alam Indonesia yang menakjubkan ini dengan slogan “Amazing Country” kenapa tidak?
Resensi lain tentang Kompas