Sekali
Korupsi Sesudah
Itu Mati
ADA apa
dengan Sumatera Barat? Tanyaan seperti ini terlalu sering mengapung
tatkala pers habis-habisan memberitakan DPRD Sumbar dalam empat tahun
terakhir, menyusul sikap pongah para wakil rakyat terhormat itu. Dengan
kekuasaan di tangan, mereka seperti sekehendak hati menggunakan (dan
terakhir terbukti mengorupsi) uang rakyat.
SEJUMLAH perantau
mengaku malu dengan perbuatan itu dan menilainya sebagai aib bagi orang
Minangkabau. "Di daerah lain lebih besar uang yang dikorupsi. Satu
anggota DPRD korupsi Rp 10 miliar, pers tak ada meributkannya," kata
seorang tokoh Minang perantau di Riau awal Juni lalu. "
Tapi di sini,
DPRD Sumbar yang korupsinya hanya Rp 5,9 miliar, beritanya bertubi-
tubi. Ini mancabiak baju di dado, membuka aib sendiri, namanya."
Sebenarnya,
menurut H Basril Djabar, tokoh masyarakat dan mantan Ketua Kamar Dagang
dan Industri Daerah Sumbar, harga diri orang Minang terletak pada
kejujuran dan kebenaran yang sebenar- benarnya.
Kalau sudah keluar dari
sana, itu pantang. Artinya, siapa yang tak jujur dengan dirinya dan tak
jujur kepada rakyat, maka mereka
akan berhadapan dengan rakyat.
"Karakter orang
Minang antara lain dibentuk oleh ungkapan kalau
Waang kayo, aden indak
kamamintak, kalau Waang pandai aden indak kabaraja, tapi kalau Waang
babuek dilua alua jo patuik, waang berhadapan jo kami (kalau Anda kaya,
saya tak akan meminta; kalau Anda pandai, saya tak akan
belajar/berguru; tapi kalau Anda berbuat di luar alur dan patut, Anda
akan berhadapan dengan kami-Red)," ujarnya.
Resensi lain tentang Kompas