Tulis ringkasan Anda di sini. Jawa Tengah Tambah Empat Lagi Daerah Endemis HIV/AIDS
83 korban sudah meninggal
Daerah penyebaran HIV/AIDS di Jawa Tengah kini bertambah lagi. Setelah 10 daerah di Jawa Tengah dinyatakan rawan terhadap HIV/AIDS, saat ini disusul 4 daerah baru di wilayah provinsi ini. Berarti, ada sekitar 40% dari seluruh wilayah kabupaten/kota di Jawa Tengah sudah terjangkit virus yaNG mematikan ini.
Menurut wakil gubernur Jawa Tengah Drs. Ali Mufiz, MPA dalam acara komitmen Jawa Tengah untuk penanggulangan HIV/AIDS di Semarang, Jum’at (18/5) kota-kota yang endemis terhadap penyakit ini adalah di jalur Pantura. Wagub hanya menyebutkan 10 kabupaten/kota yang rawan penyebaran HIV/AIDS, yakni Kota Semarang, Kota Surakarta, Kota Salatiga, Kabupaten Banyumas, Pati, Tegal, Kendal, Batang, Cilacap, dan Kabupaten Semarang. Kemudian empat kabupaten yang juga rawan penularan HIV/AIDS yakni Kabupaten Jepara, Sragen, Grobogan dan Blora.
Ali Mufiz juga menambahkan bahwa dari tahun ke tahun jumlah penderita HIV/AIDS di Jawa Tengah terus meningkat. Sampai akhir April 2007, sudah terdapat 83 korban HIV/AIDS di Jawa Tengah yang meninggal. Sementara jumlah penderita HIV/AIDS paling besar adalah Kota Semarang, meski tidak disebutkan secara rinci.
Penyebaran HIV/AIDS tidak bisa dipisahkan dengan
perilaku masyarakat.
“Berbagai perilaku
itulah yang diduga
sebagai penyebab utama
bagi peningkatan HIV/AIDS itu”, katanya. Dia menambahkan, penanggulangan HIV/AIDS harus merupakan kerja sama dari semua pihak karena ternyata para pengidap HIV/AIDS berasal hampir dari semua lapisan masyarakat antara lain pelajar, pedagang, penghuni lembaga pemasyarakatan (Lapas), dan PNS.
Sementara, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jateng, dr Budihardja MPH DTM mengatakan, rumusan kesepakatan komitmen Jateng dalam penanggulangan HIV/AIDS, yakni mengoptimalkan peran dan fungsi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) kabupaten/kota dengan mengintegrasikan lintas sektor dan LSM peduli AIDS.
Selain itu, mengupayakan pengurangan stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA), baik yang dirawat maupun tidak. Mempercepat pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS pada kelompok risiko tertular, ibu dan anak dengan memperhatikan semua aspek upaya pencegahan, komunikasi informasi edukasi (KIE), pendidikan agama dan dakwah.
Budihardja juga menghimbau kepada masyarakat, untuk memutus mata rantai penularan HIV melalui pengurangan dampak buruk penggunaan narkoba suntik, dan mengupayakan dukungan peraturan daerah dan pengalokasian anggaran pada APBBD kabupaten/kota untuk pelaksanaan pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS.
Sedangkan Wagub lebih menyoroti terhadap penderita HIV/AIDS yang sampai saat ini masih mengalami diskriminasi di lingkungan masyarakat. Menurutnya masyarakat tidak bisa terus menerus mendiskreditkan dan mendiskriminasi mereka. Ia juga menambahkan bahwa penanggulangan HIV/AIDS adalah sebuah kerja panjang, yang membutuhkan dukungan dari
Berbagai pihak secara sinergis. Sementara
itu keberanian dan komitmen yang besar dari para pemimpin daerah untuk terjun langsung dan siap melawan opini masyarakat, karena HIV/AIDS bukan semata-mata masalah kesehatan, tetapi juga moral.
Resensi lain tentang Berita Buana