• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

.

Bali Post

oleh : ma_they     


HIV dalam Kehamilan


9pt; font-family: "trebuchet ms"">HIV
(Human Immunodeficiency Virus) adalah penyebab AIDS (Acquirred Immunodeficiency
Syndrome), sebuah sindrom atau kumpulan dari gejala dan tanda-tanda melemahnya
sistem kekebalan tubuh manusia.
Seseorang yang terinfeksi HIV perlu waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun
untuk menderita AIDS. Virus HIV menyerang sistem kekebalan tubuh, terutama sel
yang mempunyai antigen CD4, yang terutama terdapat pada sel limfosit T yang
berperan penting sebagai "tentara" dalam menjaga sistem imunitas
tubuh. Jumlah sel CD4 dalam darah menunjukkan kuat lemahnya sistem imun
seseorang. Seseorang didiagnosa AIDS jika terdapat bukti-bukti melemahnya
kekebalan tubuh serta didapatkan jumlah sel CD4 dalam darah di bawah level
tertentu.
Ibu hamil bisa tertular HIV melalui hubungan seksual dengan pasangan/suami
pengidap HIV, dapat juga melalui transfusi darah yang terinfeksi HIV, atau
penggunaan obat-obat terlarang melalui jarum suntik. Ibu hamil yang terinfeksi
HIV dapat menularkannya pada bayi yang dikandungnya melalui plasenta pada masa
kehamilan, pada saat proses persalinan, serta melalui ASI pascapersalinan.
Secara keseluruhan, 20-30% penularan terjadi selama periode kehamilan, dan
hampir 80% terjadi pada saat persalinan, dengan cara transfusi darah ibu ke
bayi melewati plasenta pada saat kontraksi persalinan atau dari hasil paparan
darah dan cairan ketuban atau serviks dan vagina ibu yang telah terifeksi HIV.
Pemberian ASI adalah mekanisme penularan utama pada periode pascapersalinan.
Risiko penularan vertikal dari ibu ke janin berbanding lurus dengan konsentrasi
virus dalam darah ibu (maternal viral load) dan berbanding terbalik dengan level
CD4 dalam darah ibu.
Lakukan Pemeriksaan
Setiap wanita hamil atau yang memiliki rencana untuk hamil disarankan untuk
melakukan pemeriksaan HIV. Beberapa pusat pelayanan merekomendasikan
pemeriksaan HIV pada setiap wanita usia reproduktif yang berencana untuk hamil
yang memiliki riwayat atau risiko terpapar dengan HIV.
Terdapat beberapa jenis pemeriksaan HIV. Yang paling umum adalah pemeriksaan
antibodi terhadap virus HIV dalam darah, dinyatakan positif jika antibodi ini
ditemukan dalam tubuh. Tubuh perlu waktu untuk membentuk jumlah antibodi yang
dapat terdeteksi oleh pemeriksaan. Karena itu, jika infeksi HIV baru terjadi,
hasil pemeriksaan bisa menjadi negatif, sehingga pada beberapa kasus yang
dicurigai kuat adanya risiko infeksi HIV, pemeriksaan ulang disarankan
dilakukan pada trimester ketiga usia kehamilan.
Pemeriksaan dan konseling ini dapat ditawarkan selama kehamilan bahkan sesaat
sebelum persalinan untuk secepatnya memulai pengobatan jika memang hasilnya
positif, dengan tujuan untuk mengurangi angka penularan ke bayi yang akan
dilahirkan. Pemeriksaan HIV/AIDS ini dilakukan melalui pemeriksaan darah.



Risiko
penularan terhadap janin yang dikandung dapat dikurangi jika ibu tetap menjaga
kesehatannya seoptimal mungkin. Dengan pengobatan yang tersedia, yang dikenal
dengan Zidovudine (ZDV/AZT), risiko penularan dari ibu ke bayi dapat dikurangi
hingga sepertiganya. Angka penularan HIV pada ibu hamil tanpa penggunaan obat
antivirus sebagai terapi pencegahan berkisar antara 14-33% pada negara-negara industri,
dan lebih besar nilainya pada negara-negara berkembang, seperti di Afrika yang
memiliki angka penularan sampai 43%.
Beberapa faktor risiko lainnya yang juga berpengaruh adalah merokok, penggunaan
obat-obatan terlarang, kekurangan vitamin A, malnutrisi, infeksi seperti
infeksi menular seksual, serta stadium klinis HIV-nya sendiri. Untuk mengurangi
angka penularan, prosedur-prosedur tertentu pada masa kehamilan dan persalinan
yang sifatnya invasif dan traumatik juga harus dihindari, ataupun dilaksanakan
dengan indikasi ketat.
Menjadi Pertimbangan
Beberapa studi menunjukkan bahwa risiko penularan vertikal lebih kecil pada
persalinan dengan cesarean section (SC) yang sudah direncanakan sebelumnya jika
dibandingkan dengan persalinan pervaginam atau SC yang tidak direncanakan.
Namun, sebagian besar data ini didapatkan sebelum dimulainya penggunaan terapi
antivirus secara efektif maupun metoda penghitungan viral load.
Kini, dengan adanya pemeriksaan viral load dan level CD4 dalam darah ibu,
parameter ini dapat menjadi salah satu pertimbangan apakah lebih baik
persalinan dilangsungkan secara normal atau melalui operasi terencana yang pada
umumnya dilakukan pada usia kehamilan 38 minggu. Sehingga baik untuk diketahui
oleh penderita sebelumnya bahwa terdapat beberapa pertimbangan risiko dalam
setiap tindakan dan memberikan pilihan terbaik tentang metode persalinan yang
paling tepat untuk mereka.
Penting bagi penderita untuk tetap melanjutkan pengobatan setelah melahirkan.
Sebuah studi tahun 1994 menunjukkan bahwa pemberian terapi Zidovudine pada
wanita hamil dengan HIV positif selama kehamilan serta pemberian pada bayi 8-12
jam setelah kelahiran sampai 6 minggu sesudahnya mengurangi risiko penularan
sampai 66%.
Sebagai perbandingan, hanya 8% bayi yang terinfeksi HIV dilahirkan dari ibu
yang diterapi dengan ZDV, dan 25% bayi terinfeksi HIV dilahirkan dari ibu yang
tidak mendapatkan terapi sama sekali. Tidak dilaporkan juga adanya efek samping
yang berat dari penggunaan obat ini, kecuali pada beberapa kasus didapatkan
adanya anemia ringan pada bayi yang akan segera membaik begitu pengobatan
dihentikan. Bayi dengan HIV negatif yang dilahirkan dari ibu dengan HIV positif
yang tetap menjalani pengobatan dapat tumbuh dan berkembang secara normal.
HIV dan AIDS masih menjadi masalah kesehatan yang harus ditanggapi dengan
serius karena hingga saat ini belum ada obatnya. Jika seorang ibu hamil
terinfeksi HIV, harus dicamkan bahwa HIV dapat ditularkan ke bayi yang
dikandung. Tetapi kini sudah ada banyak cara, pengobatan maupun pencegahan
untuk meminimalkan risiko penularan HIV dari ibu ke bayi. Melanjutkan
pengobatan HIV setelah persalinan penting artinya untuk ibu maupun bayi yang
dilahirkan. Dengan pengobatan yang berkelanjutan, penderita HIV dapat
melanjutkan hidup dengan lebih optimal.


Diterbitkan di: Juli 09, 2009
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.