Ketika kita membicarakan sebuah tatanan hidup yang harmoni, sesungguhnya kita mulai merindukan kembalinya
sistem dan pola hidup yang seimban, akan tetapi berdasar jalannya waktu, keseimbangan sistem hidup ini mulai menyurut, hal ini di tandai dengan mulai gencarnya warga bangsa ini membedah isi perut bumi dan yang berada diatasnya untuk kepentingan gaya hidup, kebutuhan hidup yang dapat disimpulkan dengan keserakahan hidup. Bagaimana tidak dikatakan keserakahan hidup, bila eksplorasi dilakukan berlebihan dan menjadi eksploitasi.
Sebagai kajian dasar kita, cobalah kita lihat gaya produksi dan pelayanan bisnis kita yang menghasilkan sampah yang merusak bumi, hal ini dilakukan dalam rangka komunikasi marketing yang tidak bersahabat dengan alam, pada akhirnya menimbulkan masalah pengelolaan sampah dan tempat pembuangan akhir sampah yang runyam. TPA ( tempat pembuangan akhir sampah ) selalu melahirkan konflik fertikal dan horizontal, pemerasan, penindasan bahkan kalau boleh saya katakan perbudakan manusia atas nama nafsu kekayaan dan kemapanan. Konflik tentang lahan, konflik uang bau, konflik program pengelolaan sampah dan konflik lahan antara pemulung dan warga sekitar TPA.
gas methane yang dihasilkan dari timbulan sampah menjadikan bumi ini balon gas methane yang mudah terbakar, sehingga bila kita fikir sejenak kiamat 2012 sepertinya bukan isapan jempol!!!!
Dipermukaan, penggundulan hutan dan pengalihan fungsi area resapan air berjalan cepat dan tak terkendali, semua mengatasnamakan pembangunan dan kepentingan akan kelangsungan hidup manusia-bisakah ini dikatakan kebohongan publik-karena pada kenyataannya hanya menghasilkan penderitaan, banjir, longsor, kekeringan, gagal panen, hama. mungkin program dari sampah menuju penghijauan adalah satu-satunya jawaban atas semua persoalan diatas yang harus dilaksanakan sekarang juga!