SUATU HARI NANTI
Ibu…Ayah…jika ku besar nanti
aku akan membahagiakanmu. Akan ku buat rumah yang paling nyaman untukmu. Ku penuhi dengan pelayan yang selalu siap membantumu, sehingga ibu dan ayah bisa menikmati kebahagiaan bersama di hari tua tanpa harus direpotkan dengan urusan-urusan di rumah. Ibu tak perlu lagi menguras tenaga untuk mencuci pakaian, karena akan kubelikan mesin cuci mutakhir. Itu pun bukan ibu yang menjalankannya. Ayah tidak perlu repot-repot naik angkutan umum untuk periksa kesehatan, karena akan ku sewa dokter pribadi yang bonafit dan selalu siap sedia saat ayah butuhkan. Ibu…Ayah…kini ku harus menuntut ilmu dahulu sebagai bekal untuk mewujudkan mimpi-mimpi ku tadi. Aku akan menjadi anak yang soleh, murid yang baik, mahasiswa yang berprestasi dan karyawan yang jujur.
Ibu…Ayah…atas doa-doa yang kau panjatkan dalam setiap shalatmu, aku berhasil menjalani kehidupan ini dengan selamat. Tunggulah beberapa waktu lagi, maka aku akan membahagiakan kalian. Kini aku masih sibuk memintal hidup di perusahaan tempat aku bekerja. Demi menjadi anak yang mandiri dan tidak membebani ibu dan ayah lagi.
Ibu…Ayah…buah dari kejujuran dan kerja kerasku selama ini membuat aku dipercaya . Aku akan menabung sedikit demi sedikit, aku akan segera memugar rumah tua kita menjadi istana yang nyaman untuk ibu dan ayah.
Ibu…Ayah…sepertinya dewi fortuna masih berpihak kepadaku. Kini aku akan segera melangkah ke tingkat kehidupan yang lebih tinggi. Seorang wanita belia telah menerima lamarankuku. Aku bisa melihat kebahagiaan di mata ibu dan ayah pada hari pernikahanku. Ibu dan ayah pasti bangga karena telah berhasil membimbing, dan mengantarkan aku ke awal kehidupan baru dalam mahligai perkawinan. Tekad dalam hatiku untuk membahagiakan kalian berdua semakin menggebu dan tak terbendung.
Ibu…Ayah… kini aku telah menabuh benih yang nantinya akan memanggil ibu dan ayah dengan sebutan ‘kakek’ dan ‘nenek’. Aku akan menyayanginya sebagaimana ibu dan ayah menyayangiku. Aku akan mengajarkan hal-hal yang baik sebagaimana yang telah ibu dan ayah ajarkan padaku.
Ibu…Ayah…cucu mu kini telah bertambah lagi. Memberi warna baru dalam hari-hari ayah, ibu dan aku. Meramaikan hidup kita dengan tawa, tangis, dan jeritan nakalnya.
Ibu…Ayah…aku tidak lupa dengan janjiku dahulu yang entah telah tertunda berapa lama. Bukannya aku sengaja melakukan namun saat ini aku benar-benar harus mengurus anak-anak.. Aku pasti akan melaksanakan janjiku itu pada waktu yang tepat. Aku hanya belum menemukan waktunya.
Ibu…Ayah…kini aku menangis di atas pusara kalian berdua. Menyesali waktuku yang terbuang tanpa sempat memberikan secuil perhatian pada ibu dan ayah. Sekedar menemani duduk di beranda sambil minum teh pun aku tak sempat, dengan alasan sibuk. Aku menunda niat luhur untuk membahagiakan kalian berdua dengan harapan semakin lama direncanakan maka akan semakin matang pula pelaksanaannya. Berharap aku bisa melakukannya kapan pun aku mau karena ku kira waktuku masih panjang, dan tiba-tiba aku telah berada bermil-mil jauhnya dari ibu dan ayah serta sibuk mengurus hidupku sendiri.
Ibu…Ayah…aku selalu berpikir suatu hari nanti aku akan membahagiakan kalian berdua dengan rumah, pelayan, dan dokter pribadi. Semua materi yang ingin kuwujudkan itu membuat aku semakin lama semakin jauh dari kalian. Aku begitu yakin suatu hari nanti kesempatan itu pasti akan tiba, namun aku melupakan hal-hal yang penting. Aku merasa ibu dan ayah akan selalu ada, tanpa ingat ajal dapat menjemput kapan saja. Aku tidak memanfaatkan waktu yang tersisa untuk lebih sering bersama kalian. Dan yang paling aku sesali adalah aku menganggap materi yang aku kejar dapat membahagiakan ibu dan ayah. Kini aku hanya bisa menyesali waktuku yang berlalu begitu saja tanpa sempat membahagiakan kedua orang tuaku. Begitulah apabila Tuhan sudah berkehendak.