• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

.

Majalah Horison

oleh : PakJohn     

Pengarang : Taufiq Ismail

Kurun masa Demokrasi Terpimpin (1959-1965) merupakan perioda riuh-rendah, hiruk-pikuk dengan demagogi dan intrik politik.
Tidak sabar dengan proses pelaksanaan demokrasi sebagai negara baru merdeka, Presiden Soekarno membubarkan Majelis Konstituante dan Dewan Perwakilan Rakyat yang dipilih secara demokratis, jujur, damai, tak ada penipuan penghitungan suara dan sebagai gantinya membentuk yang baru tanpa pemilihan umum lalu sendirian menunjuk anggota-anggotanya.
Sejumlah tokoh pers dan politik yang berseberangan, masuk tahanan tanpa proses pengadilan.
Lini politik, ekonomi, sosial (buruh, tani, pcmuda, wanita, mahasiswa, pelajar), militer, pendidikan dan seni-budaya, seluruhnya digarap dengan rencana terperinci, yang akhirnya akan mengerucut pada kudeta 1 Oktober 1965.
Dan ketiga harian ini, Bintang timur dengan sisipan ruang seni-budava bertajuk Lentera adalah terompet yang paling lantang suaranva. Di samping menyiarkan propaganda ideologi, di ruangan ini secara sistematik dilakukan serangan-serangan terhadap seniman-sastrawan yang berseberangan dengan Lekra/PKI.
Rubrik yang terbit setiap hari minggu di harian Bintang Timur itu, pada tahun-tahun 1963 - 1965 terus menerus melakukan serangan gencar terhadap seniman/sastrawan yang berseberangan ideologi dengan Lekra/PKI.
Opini yang ingil dicapai Lentera adalah bahwa tokoh-tokoh seni-budaya ini jelek dan tidak pantas menjadi seniman budayawan. Buya Hamka adalah salah satu sasaran utama karena di samping sastrawan non-komunis, beliau juga tokoh besar Muhammadiyah dan Masyumi yang bertentangan_dengan PKI.
Beliau dituduh terlibat dalam sebuah komplotan yang berencana membunuh Presiden Sockarno dan Menteri Agama Saifuddin Zuhri, suatu tuduhan yang biasa tidak masuk akal waras.
Di dalam tahanan .sastrawan-ulama besar ini menvelesaikan seri Tafsir Al Azhar yang monumental itu.
Kedua, tentang bagaimana sikapnya terhadap Pramudya yang menghancurkan nama baiknya beberapa tahun di Lentera/Bintang Tiniur, yang berlanjut dengan fitnah politik berkomplot akan membunuh presiden dan menteri agama, sehingga masuk tahanan 2,5 tahun lamanya, tanpa proses pengadilan.
Mengenai pelarangan pemerintah Demokrasi Terpimpin terhadap buku-bukunya, bersama dengan buku-buku pcngarang non-PKI lainnya, yang Lekra/PKI menyetujuinya, termasuk Pramudya, Buya Hamka memaafkannya. Tentang pertanyaan kedua, yaitu penghancuran nama baiknya yang berlanjut dengan penangkapan dan penahanan atas tuduhan makar tersebut, Buya Hamka menyatakan bahwa untuk semua yang terlibat dalam hal ini, beliau sudah memaafkan pula.
Kebesaran jiwa dan keikhlasan gemilang Buya Hamka tampak menjulang tinggi ketika beliau memimpin shalat jenazah Bung Karno, yang wafat pada 21 Juni 1970.
Buya Hamka memaafkan sikap aneh sahabatnya Bung Karno, yang belakangan berfihak kepada PKI, yang ternyata menipu bangsa itu. Dirasakan anch bagi orang banyak, mengingat persahabatan Buya Hamka dan Bung Karno di Bengkulu, serta kctika masa pembuangan di zaman penjajahan itu betapa dekatnya afiliasi Bung Karno dengan organisasi Muhammadiyah. Sesudah sekitar dua tahun digasak Lekra/PKI, kemudian difitnah komplotan makar tanpa bukti dan masuk tahanan tanpa diadili dua tahun lebih, pastilah penderitaan yang menimpa Buya Hamka ini diketahui Bung Karno.
Buya Hamka memaafkan sahabat lamanya, yang berhasil dipengaruhi PKI, pengusung kolektif ideologi jaringan perebut kekuasaan dengan kekerasan berdarah selama 69 tahun (1918-1987) di 75 negara di dunia (Nihan: 1991). Hebat luar biasa. Betapa inginnya saya mengikuti jejak langkah sikap dan perilaku keikhlasan Buya Hamka, sumur tempat saya menimba ilmu dan guru tempat saya minta nasihat ini. Disuruh Belajar Agama Islam Dari Dr. Hoedaifah Koeddah, yang pernah mengobati Pramudya yang diabetik dan dekat dengan keluarga sastrawan itu, saya mendapat kisah berikut ini (Horison, Agustus, 2006).
Pram pernah mengatakan kepada Dr. Hoedaifah bahwa, "Saya tidak rela anak saya kawin dengan orang yang secara kultur dan agama berbeda."
Hoedaifah pernah bertanya kepada Pram mengapa dia menyuruh calon menantunya belajar agama Islam pada Buya Hamka, yang menjelang Gestapu / Kup 1 Oktober 1965 justru diserang Pram terus-rnenerus di Lentera / Bintang Timur berbulan-bulan lamanya itu? Jawabnya, "Pertama-tama karma saya tidak mendidik anak sava. Justruu ibunya yang mendidik dia menjadi seorang rnuslimah yang baik. Kedua; karena saya harus menghormati ibunya dan keluarga ibunya, keluarga besar Muhammad Husni Thamrin. Masalah perbedaan pendapat dengan Hamka tetap. Tapi dalam hal ceramah agama di televisi, Buya Hamka-lah yang paling mantap membahas soal tauhid." Walau pun Pram tidak eksplisit dalan hal ini minta maaf kepada Buya Hamka terhadap apa yang pernah dilakukanya dahulu kepada beliau, tapi dengan kenyataan bahwa Pram mennyuruh calon menantunya pergi belajar ke rumah Buya Hamka (bukan kepada ulama lain), sava membaca peristiwa ini sebagai ungkapan minta maaf dari Pram, secara tidak langsung, dengan gaya orang Jawa.
Info sisipan, bagi yang suka mencari uang di internet. Alamat-alamat berikut layak anda coba.
http://securebux.cn/?r=pakjohn
http://www.ngebux.com/?r=pakjohn
http://klikajadeh.com/?r=PakJohn
https://www.klikrupiah.com/index.php?ref=pakjohn
http://www.rupiahbux.com/register.php?r=pakjohn
Diterbitkan di: Februari 22, 2009
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

Orang yang membaca ringkasan ini juga membaca:

.