• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

.

Padang Ekspres

oleh : wimonline    


Visi Kenabian
Kata orang bijak: Hidup terasa singkat bila dilalui dengan pilihan yang salah. Pilihan yang salah itu
terjadi ketika tidak berhati-hati merumuskan visi. Sedangkan visi merupakan saripati dari bagaimana merealisasikan prinsip-prinsip. Ada banyak prinsip dan visi yang dalam proses aktualisasinya menjadi serangakaian kerja yang terbentuk atas berbagai kepentingan pula.
Mata rantai terakhir dari jaringan cara merumuskan prinsip atau visi adalah individu manusia yang berintegrasi dalam sebuah sistem sosial. Maka, terciptalah strata-strata. Sebut saja, ada elit dan massa. Ada pemimpin dan rakyat. Ada nabi dan umat. Masing-masingnya berdialektika dengan mengusung visi yang sekalipun berbeda, tetap menjadi penentu bagi gerak sistem sosial.
Eko Prasetyo (EP) dalam bukunya, Islam Kiri Melawan kapitalisme Moral-dari Wacana Menuju Gerakan, (Yogyakarta: INSIST PRESS, 2002), mencoba mengungkai diskursus “berprinsip dan bervisi” ini. Dijelaskan EP, setiap nabi yang diutus, sebut saja, apakah nabi itu dari agama langit atau agama bumi, membawa satu visi yang orientasinya sama; prinsipnya sama. Yakni, mengupayakan pemerataan antara kalangan miskin dengan yang kaya, pemimpin dan rakyat, pengusaha dan buruh, guru dan murid, ulama dan jamaah, dan seterusnya.
Sejarah kenabian selalu menyimpan pesan, bahwa tujuan dari ajaran yang mereka bawa bukan untuk menobatkan diri mereka menjadi pemegang tampuk kekuasaan. Tetapi, untuk melawan kesenjangan sosial, ketidakmerataan hak, dan sebagainya. Silakan dipelajari nabi Nuh yang hanya seorang guru sekaligus tukang kayu, Musa adalah seorang penggembala, Syu’aib dan Hud adalah guru miskin. Malahan Ibrahim, seorang guru besar tauhid hanyalah seorang tukang batu dan Isa hanya seorang tukang kayu. Namun mereka tampil bukan sebagai penguasa. Mereka hadir dengan penyadaran-penyadaran, suri tauladan, meskipun strata mereka bukan tergolong elit.
Lalu, mari pula menengok realitas yang sedang tumbuh saat ini. Sudah terwujudkah kemerataan yang dicita-cita para Nabi itu? Jawabannya akan berbeda ketika beberapa kasus dijadikan sampel. Saksikan saja, demonstrasi yang bertolak dari ketidakpuasan seperti ketikpuasan terhadap sejumlah kebijakan penguasa dalam mengendalikan ekonomi negara di tengah krisis global. Lihat pula, “perangai” masyarakat yang terjabak dalam kemasing-masingan. Pencari kerja makin banyak, tidak berimbang sedangkan lapangan pekerjaan tersedia. Para elit sosial hidup dalam kecukupan, bisa berlibur keluar negeri, bisa memperbesar saldo tabungan, berinvestari, dan naik haji. Sedangkan masyarakat biasa kekurangan gizi, tidak bisa mendapat tempat tinggal dan pendidikan yang layak. Lahirlah istilah, “yang kaya makin kaya, yang miskin mati saja”.
Lantas, bagaimana lagi? Menunggu kehadiran nabi baru tentu tidak mungkin lagi. Sebab ini akan menyebabkan pertarungan prinsip yang berdampak tidak baik. Simak pulalah kisah-kisah sejumlah nabi palsu akhir-akhir ini. Yang sangat memungkinkan, hanya dengan memacu pencarian, penggalian ulang terhadap prinsip-prinsip dan visi kenabian. Apa sesungguhnya yang tersembunyi dari diutusnya para nabi dan mengaktualisikan serta menguatkannya lagi tanpa harus dengan menunggu atau menjadi nabi baru. Di antara visi kenabian yang telah ditemukan adalah: melawan kemiskinan, ciptakan kesetaraan di tengah tarik-menarik beragam kepentingan.
Diterbitkan di: Januari 14, 2009
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

Orang yang membaca ringkasan ini juga membaca:

.