Filosofi
Perang Bukan saat yang tepat mengulang-ulang pemberitaan media mengenai berapa nyawa yang melayang, dan korban
luka-luka akibat serentetan
perang bersenjata di belahan dunia belakangan ini. Efek pembahasan ini sungguh buruk bagi kejiwaan. Akan ada akidah yang terasa dilecehkan. Akan ada kemanusian yang terinjak-injak, dan sebagainya. Barangkali, bagi kita yang hidup dalam situasi dan kondisi sosial yang ”aman”, lebih rileks dan bernilai syukur bila menyoal
filosofi perang itu sendiri.
Filosofi perang? Apakah Ada?
Di antara akar peperangan itu adalah hasrat untuk jadi pemenang dalam sebauh persaingan yang ternyata telah hinggap di jiwa manusia, sebelum manusia itu sendiri lahir. Albert Camus, dalam bukunya
The Rebel, Vintage Books, 1956 (telah dialihbahasakan oleh Max Arifin, dengan judul
Pemberontak, Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 2000) mengungkai akar-akar pemberontakan yang berdiam dalam diri manusia tersebut. Ada pemberontakan yang bermuatan konstruktif dan ada pula yang kontraproduktif. Akar-akar inilah yang mengirim makanan bagi batang dan cabang-cabang kehidupan.
Bisa dimaklumi dari proses sebelum sel sperma membuahi sel telur di dinding rahim. Disiplin ilmu kedokteran mengemukakan, jutaan sel sperma bersaing menempati posisi pembuahan. Sel sperma yang berhasil bertahan hiduplah yang kemudian menjadi segumpal darah dan sebentuk tubuh yang bernyawa. Rahim, selama periode pra kehamilan seorang ibu ini, menjadi arena pertarungan. Pemenangnya hanya seorang. Bisa juga dua orang kalau sel telur yang dibuahi tersebut kembar.
Dalam wacana inilah, usaha menggali filosofi peperangan layak diusung. Potensi merusak yang ada dalam diri manusia akan benar-benar merusak bila filosofinya teralih dari orientasinya yang hakiki. Bom diledakkan, roket-roket diluncurkan, menjadi tanda, bahwa potensi merusak tersebut sudah tidak terkendalikan.
Pengendalian diri, oleh al-Attar, Murid al-Hallaj, disimbolkan dengan seorang yang memelihara anjing. Dalam buku hasil suntingan Leonard Lewisohn:
The Heritage of Sufism; Classical Persian from its Original to Rumi (700-1300), England: Oneworld Publication, 1999) terdapat kisahnya. Suatu hari, al-Hallaj datang ke perguruanmuridnya, al-Attar dengan membawa dua ekor anjing. Makanan lezat yang disediakan murid-murid al-Attar disantap al-Hallaj bersama anjignya. Sepotong untuk anjing, sepotong lagi untuk dirinya.
Murid-murid al-Attar tersinggung dengan kelakuan al-Hallaj yang jorok dan menyampaikan protes kepada al-Attar. Mereka tidak suak melihat seorang al-Hallaj bermain-main dengan anjing, si binatang najis. Dengan tenang al-Attar menengahi protes murid-muridnya.
"Itulah istimewanya guru saya, al-Hallaj. Ia sudah berhasil memelihara anjing di luar dirinya. Sementara kalian masih memelihara anjing dalam diri kalian!"
Persaingan yang berbuntut peperangan akan selalu terjadi. Tak dikecualikan, apakah perang fisik atau perang batin. Yang sukar terjadi adalah mengelola persaingan menjadi peperangan yang membangun.
Seperti al-Hallaj memelihara “anjing” sebagai simbol potensi “perusak” manusia itu di luar dirinya.
Jika hal demikian boleh dikatakan filosofi perang, orang Minangkabau tentu akan terkenang pada peristiwa adu kerbau yang dikenal sebagai asal-muasal nama Minangkabau. Para diplomat dan politisi ketika itu berpendapat: yang bertarung di galanggang cukup kerbau saja. Dan pemilik kerbau yang menang berhak menerima pengakuan sebagai orang yang menang perang.