Islam Terjebak Dalam Puasa Mekanis Pada bulan ramadhan
umat islam banyak melakukan amal saleh, tadarus, tarawih, ikut kultum, bersedekah dan kegiatan lainnya yang bernuansa religi. Singkatnya, tingkat spritualitas dan kedermawanan menjadi tinggi. Termasuk juga pada penampilan symbol pakaian. Jilbab laku keras, baju koko dan kopiah banyak terjual dan petugas-petugas pelayanan public ramai-ramai memakai pakaian muslim.
Dalam kehidupan social yang lebih luas, nuansa ramadhan terlihat pada bagaimana pada pemerintah dan organisasi-organisasi keagamaan secara aktif memeprsiapkan diri. Paling tidak terlihat dari imbauan pemerintah dan tuntunan beberapa ormas islam untuk menutup tempat-tempat hiburan malam yang dianggap mengurangi kesucian ramadhan.
Mengapa demikian?karena adanya keyakinan umat islam tentang posisi bulan ini yang mendapat perlakuan khusus dalam kalender islam. Bulan ini memiliki berbagai keutamaan dibandingkan dengan sebelas bulan yang lain. Rasulullah menawarkan garansi bagi mereka yang berpuasa ramadhan dengan iman dan takwa akan diampuni dosanya laksana bayi yang baru saja keluar dari rahim ibunya. Dari sisi teologis, ibadah
puasa untuk meningkatkan ketakwaan dengan berbagai hikmah yang bias dipetik darinya dan pada akhirnya berdampak pada tumbuhnya tatanan nilai dan kualitas social umat.
Namun pada sebagian umat islam, sering kesucian ramadhan dipahami berbeda yang dampaknya bias menempatkan bulan ramadhan sebagai kegiatan yang berbau mekanis semata. Sebuah kegiatan yang dilakukan karena tradisi tanpa memahami makna dan nilai-nilai kemanusiaan yang diembannya. Tulisan ini merekam beberapa perilaku yang mekanis semata tentang puasa yang juga menunjukan tidak berdampaknya nilai puasa pada sisi-sisi social kehidupan umat…………….
Bersambung..............di (Baca) Puasa Ramadhan dan Jam Weker.