Satu Lagi Lelucon Korupsi. Jika semua maling mengaku,
Penjara akan penih. Demikian sebuah ungkapan yang sering kita dengar. Itu artyinya, begitu banyaknya maling disuatu negri (negara kita), sehingga kalau semuanya mengaku, penjara akan penuh. Sekarang saja, di negri kita, belum semua maling mengaku, penjara sudah over load.
Koruptor itujuga tergolong maling. Tapi jangan mengaku duluan, sudah tertrangkap tangan oleh KPK saja masih tidak mau mengaku, apalagi mau mengaku sendiri. Tapi ada juga kekecualian. Seorang bernama Agus Condro, seorang politisi PDIP, cuap-cuap mengaku pernah menerima uang Rp 500 juta alias setengah miliar untuk menggolkan Miranda Gultom jadi Deputi Senior BI.
Namun dia tidak mengaku sendirian menerima. Tapi juga beberapa temanyasatu komisi, satu fraksi dan partai PDIP. Kontan saja pengakuan Agus Condro membuat teman-teman separtainya kelimpungan. Bagaimana ujung ceritanya nanti, mari kita tunggu saja.
Yang jelas, dengan tambahan fenomena itu, kita bisa berkata bertambah lagi satu lelucon
korupsi di negri ini. Ya, kita katakan saja satu lelucon, sebab ulah para koruptor sebenarnya menggelikan. Seperti sejumlah anak-anak menyangkal habis-habisan, ada yang kabur, ada yang mengaku sambil menuding temannya yang lain.
Fenomena Agus Condro adalah fenomena korupsi negri ini. Yang lucu bukan saja Agus Condronya, tapi orang-orang yang menyangkal walaupun Belem dituding secara langsung.
Lelucon lain korupsi dinegri ini, diantaranya adalah pledoi Artalyta ketika diadili dalam kasus suap Rp 6 M terhadap jaksa Urip Tri Gunawan. Dia bilang itu adalah uang untuk pinjaman bisnis. Heo heo heo, jaksa rupanya berbisnis juga. Lalui ada yang bilang, memang benar bisnis, bisnis
hukum alias dengan perkara.
Jadi, di negri kita rupanya memang banyak lelucon korupsi. Cukup menggelikan. Lelucon yang ditujukan oleh para koruptor, yang terkadang tampak amat baik, amat saleh, amat beriman. Padahal ketika ia korupsi, sebenarnya ia melakukannya seperti tidak percaya ada tuhan yang melihatnya dan ada hari pembalasan yang menunggunya.