Membaca Koran Tempo edisi internet pada hari Sabtu, 06 September 2008 ini, saya sedih. Habis, harga minyak di
pasar dunia masih tinggi. Kata Tempo, hal ini akibat tekanan isu angka pengangguran di AS, serta penurunan permintaan global. Pada perdagangan Jumat (5/9) harga minyak menyentuh angka US$106,23 per barel.
"Pasar minyak khawatir dengan penurunan permintaan global," kata John Kilduff, senior vice president of risk management di MF Global LLC, seperti dikutip Tempo.
Koran Tempo juga menuliskan, bahwa adanya kekhawatiran itu, harga minyak jenis light sweet untuk pengiriman Oktober mengalami penurunan US$ 1,66 menjadi US$ 106,23 per barel di New York Mercantile Exchange, pada perdagangan Jumat (5/9). Dan pada perdagangan hari itu, harga minyak mentah sempat menyentuh level US$ 105,13 per barel.
Sementara di London, harga minyak mentah jenis Brent untuk pengiriman Oktober turun US$ 2,21 menjadi US$ 104,09 per barel. Namun, menurut John Kilduff, sinyal kemungkinan terjadinya kenaikan harga mulai terlihat.
Kemungkinan terjadinya sejumlah badai di kawasan Atlantik serta rencana Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak untuk menurunkan tingkat produksi mereka guna menjaga kestabilan harga adalah beberapa diantara sinyal kemungkinan kenaikan harga tersebut.
Saya lalu ingat pernyataan calon Presiden Amerika yang pernah tinggal di Jakarta, Barac Obama, yang optimis akan bisa mengurangi ketergantungan energinya dari Timur Tengah. Saya juga jadi kebayang, bagaimana orang di negeri kita mesti antri minyak dan gas. Gemana nih Pak SBY? Kita kok nggak bisa menikmati dari adanya win fall profit dari adanya harga minyak yang tinggi ini. Rakyat masih tetap sengsara.