• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Surat Kabar>Indonesia>Keretamu Tak Berhenti Lama (Jawa Pos)

.

Keretamu Tak Berhenti Lama (Jawa Pos)

oleh : Aviccena    


Bel itu berbunyi empat ketukan dengan nada yang membosankan. Seolah lonceng bubaran sekolah, penghuni stasiun serempak menjadi
awas dengan pengumuman yang akan diworo-woro setelahnya. Aku tengah terkantuk-kantuk ketika bel itu menyentak, menyadarkanku dari lelap yang belum lengkap.
Pengumuman dikumandangkan bahwa kereta api dari Bandung tujuan Stasiun Malang tiba di jalur tiga. Bagi para penumpang yang telah membeli karcis tujuan ke Malang harap bersiap-siap sebab kereta api tak akan berhenti lama. Dalam pengumuman itu tak lupa diingatkan agar orang-orang menjauh dari jalur kuning yang telah ditandai. Area aman untuk berdiri di dekat jalur rel, agar tak tersambar kereta lewat. Para porter tentu saja tak mengacuhkan pengumuman untuk menjauh dari jalur kuning. Mereka menyambar pintu kereta dengan kelincahan kaki yang terlihat lihai. Meski kereta tak berhenti lama, ada sebagian orang yang turun di Stasiun Tugu, Jogjakarta, ada pula yang naik menuju ke Malang. Ini berarti ada saja orang yang butuh jasa angkat-angkat barang bawaan.
Aku mulai sibuk menjajakan dagangan kepada penumpang lewat jendela-jendela, berharap ada saja orang yang menyempatkan diri untuk sekadar membeli oleh-oleh. Karak, intip, bakpia, atau nasi pecel bungkus, semua tersedia. Wajah-wajah berminyak dan separuh ngantuk mengintip dari balik jendela kereta. Tak mungkin aku curi-curi naik ke dalam gerbong kereta, pramugara kereta eksekutif galak-galak. Mereka akan mengusirku jauh-jauh agar tak mengganggu kenyamanan penumpangnya.
Aku bergeser menuju ke kepala gerbong. Dan seperti dugaanku, ''Ning! Ning!'' sebuah suara berat memanggilku. Dari arah kepala kereta. ''Ada bakpia?'' tanyanya. Pak Kasdi, masinis kereta dengan perut agak buncit dan kumis yang enggan tumbuh sekaligus enggan dicukur.
''Ada,'' kataku cepat-cepat ke arah Pak Kasdi. Beberapa teman pedagang yang juga menjual bakpia dan berdiam tak jauh dari Pak Kasdi langsung menyumpah serapah. Aku menerima uang dan menukarnya dengan sekotak bakpia.
''Kembaliannya buatmu saja!''
Aku tersenyum. Aku sudah tahu, kok.
''Ayo, ikut!'' ajak Pak Kasdi sambil menggodaku. Aku menggeleng. ''Bener, ndak mau ikut? Ayo! Naik kereta api...tut, tut, tut...,'' goda Pak Kasdi lagi, kali ini sambil mendendangkan lagu anak-anak itu. Aku menggeleng lagi. Lalu pluit panjang disempritkan. Suara pengumuman terdengar lagi, kereta di jalur tiga segera diberangkatkan. Aku minggir, menjauh dari jalur kuning. Kupandangi kereta yang mulai bergerak, klakson kereta panjang dibunyikan. Aku tahu itu tanda ''sampai jumpa'' untukku. Kulirik uang yang tadi diberi Pak Kasdi, selembar merah seratusribuan. Lumayan. Diam-diam dengan girang kusimpan uang itu di dalam beha.
Siang ini aku bisa memberi Dono, anakku, makan yang lebih enak. Mungkin dengan ayam bakar atau terik. Kugandeng bocah empat tahun itu menuju ke pangkalan becak. Becak suamiku ada di situ, tapi pengemudinya raib. Aku menoel seorang tukang becak yang sedang tidur di dalam becaknya sambil menutup mukanya dengan caping. Tukang becak itu terbangun sambil menyumpah-nyumpah sebab baru saja ia terlelap.
''Bojoku mana?''
''Embuh!'' jawabnya tak acuh, membuatku sebal. Tukang becak itu kembali meringkuk di kursi becaknya yang tak bisa dibilang nyaman. Toh ia tetap mencari posisi paling enak untuk sekadar istirahat.
Kulihat sekelompok tukang becak tak jauh dari situ sedang berkerumun sambil jongkok. Judi lagi, judi lagi! Aku benci bukan main dengan kebiasaan suamiku ini. Aku sudah menduga, pasti siang ini Mas Jarno tak bisa memberi kami uang untuk makan siang. Lelaki itu malah minta tambahan uang untuk bertaruh. Tentu saja kutolak mentah-mentah, kami cekcok sejenak. Lalu dipisah oleh seorang tukang becak di sana. Hutang setoran becak sudah menunggak tiga hari. Jika dituruti terus berjudi, kami benar-benar akan puasa. Biar! Kugendong Dono. Sambil jalan keluar, aku memegang-megang pangkal dada kiriku, kurasakan uang dari Pak Kasdi masih terselip di situ.
Diterbitkan di: Agustus 26, 2008
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

Orang yang membaca ringkasan ini juga membaca:

.