Majalah terkemuka Amerika
National Geographic edisi Indonesia, Agustus ini menurunkan kembali laporannya tentang keadaan
negeri ini pada September 1955. Laporan berjudul
Sang Raksasa Muda, Indonesia itu ditulis Beverly M. Bowie, dilengkapi foto-foto karya J. Baylor Robert. Hasrat ingin maju menyelimuti negeri berpenduduk 79 juta jiwa, begitu simpul Bowie setelah berkeliling di berbagai kota di beberapa pulau Indonesia.
Yang menarik dari tampilan majalah itu adalah dipasangnya foto Presiden Soekarno yang sedang berdiri ambil tersenyum di ruang kerjanya. Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia, adalah pecinta seni. Istana Merdeka pun dihiasnya dengan banyak karya seni, begitu bunyi
caption foto di bawahnya.
Ada banyak cara memang untuk bernostalgia di saat negeri ini memperingati kemerdekaannya. Tetapi, satu hal yang tidak bisa dilupakan adalah mengingat sosok Soekarno (
Bung Karno). Mengapa demikian? Keith Loveard dalam tulisan panjangnya di
Asiaweek mengatakan, di seluruh wilayah Indonesia yang membentang 5.000 km, satu nama sinonim dengan nasionalisme Indonesia adalah Soekarno. Ia pendiri negara dan arsitek kemerdekaan negeri ini. ''Bagi banyak orang, kenangan atas presiden pertama itu ada kaitannya dengan impian tentang bagaimana Indonesia harus dibangun,'' tutur Loveard.
Sebagai tokoh yang istimewa, Soekarno sudah banyak ditulis. Ratusan buku telah diterbitkan. Meskipun begitu, ada yang kurang mendapat perhatian. Yakni Bung Karno adalah kutu buku yang luar biasa. Penguasaannya atas sejumlah bahasa asing plus kemampuan pidatonya yang luar biasa menjadikan dirinya orator tanpa tanding. Ia mampu mempersatukan dari begitu banyak latar belakang etnik, budaya, dan agama dengan lidahnya, tanpa menumpahkan setetes darah pun.
Kemampuan Soekarno itu tentu diperoleh melalui proses, tetapi jelas buku-buku adalah bagian terpenting dari proses itu. Saat masih remaja, Soekarno sudah sering tenggelam menikmati beragam buku di perpustakaan ayahnya. Kemudian, seperti ditulis Howard Palfrey Jones dalam bukunya
Indonesia: The Possible Dreams, masa-masa dalam penjara dan pengasingan adalah tahun-tahun pendidikan. Ia membaca dan membaca -semuanya dapat diperolehnya. Tetapi ia paling menginginkan buku-buku tentang sosialisme dan revolusi; buku-buku yang akan mengajarinya bagaimana mengorganisasi (rakyat) melawan Belanda, buku-buku yang akan memberinya pandangan tentang revolusi.
Bertahun-tahun kemudian, tulis mantan duta besar AS di Indonesia itu, Bung Karno melukiskan pengalamannya membaca buku-buku di penjara:
''Aku bertemu di alam pikiran dengan Tom Paine. Aku bertemu dan berbicara dalam alam pikiran dengan para pemimpin Revolusi Prancis, aku bertemu dengan Mirabeau; aku bertemu dengan Moreau; aku bertemu Danton; aku bertemu para pemimpin revolusi wanita di Paris. Dan dalam alam pikiran, aku bertemu para pemimpin Jerman. Aku bertemu Herr Alterfritz, Frederic Agung. Aku bertemu Wilhelm Lieplat dan, ya, kemudian aku bertemu juga dengan Marx, Karl Marx. Aku bertemu dengan Adolf Berstein. Aku bertemu dengan Friedrich Engels.''
Soekarno juga mengatakan: ''Aku bertemu dengan Mazzini, dengan Garibaldi, dengan Plekanov, dengan Trotsky, dengan Lenin, dengan Gandhi, dengan Mustafa Kemal Ataturk, dengan Ho Chi Minh, dengan Sun Yat Sen, dengan Saygo Takamori. Aku bertemu Nehru, dengan Mohammad Ali Jinnah, dengan Jose Rizal Mercado, yang ditembak mati oleh Spanyol pada tahun 1903. Aku bertemu Thomas Jefferson dan Abraham Lincoln.''
''Begitulah setelah bertemu -setelah berbicara dengan semua pemimpin besar itu- aku menjadi yakin bahwa manusia itu satu (sama),'' kata Bung Karno.
Howard Jones pun mengaku, ia sering melongo menyaksikan otak gajah Bung Karno karena dalam pidatonya pemimpin Indonesia itu mampu mengutip panjang kata-kata Jefferson, Lincoln atau Karl Marx persis dalam bahasa aslinya.
Setelah menjadi presiden, Bung Karno dikenal sebagai pemimpin yang dekat dengan dunia penerbitan buku, terutama setelah berdirinya Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi). Sebagai kepala negara, Bung Karno memerintahkan pemberian subsidi kertas untuk penerbit buku, juga penerbit surat kabar. Setiap kali ada pameran buku, Bung Karno selalu berusaha datang dan memberi dorongan para penerbit.
Hubungan Bung Karno dengan tokoh-tokoh penerbitan buku cukup dekat. Dengan Tjio Wie Tay, misalnya, pemilik Penerbit Gunung Agung, Bung Karno malah memberinya nama baru yaitu Masagung, nama yang kemudian terus dipakainya hingga akhir hidupnya.
Tragisnya, pemimpin yang dibesarkan oleh buku-buku itu menjalani tahun-tahun terakhir hidupnya tanpa buku, majalah, surat kabar dan media massa lain. Penggantinya, Jenderal Soeharto, yang mengaku sebagai orang
yang mikul dhuwur mendhem jero, menutup akses informasi baru termasuk buku-buku, untuk Bung Karno.
Menyedihkan memang. Penguasa Belanda pun tidak melakukan itu. Tetapi, untuk memahaminya, surat wartawan Belanda yang sahabat Bung Karno, Willem Oltmans, kepada Presiden Soeharto pada 1990-an mungkin sedikit memberikan jawaban. Dalam suratnya yang juga dikirimkan ke berbagai pihak di Indonesia, Oltmans antara lain mengkritik Soeharto yang dinilainya tak pernah berbicara tentang buku-buku. ''Banyak pemimpin Indonesia adalah orang-orang yang membaca buku, kecuali Tuan...,'' tulis Oltmans.
* Djoko Pitono, Jurnalis dan Editor Buku