Kembalikan Islam Kesosok Nabinya. Disini saya penulis
akan memberikan gambaran keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam mempertahankan atau menjalankan agama Allah SWT. Dan coba bandingkan dengan sikap yang dilakukan oleh umat manusia sekarang dalam mempertahankan atau membela agama islam.
Ada kesulitan bagi kaum kafir Quraisi dimekah untuk memojokan nabi Muhammad SAW yang datang ketengah-tengah mereka membawa dan meneruskan pesan-pesan para Nabi Allah SWY sebelumnya. Dimana pada zaman itu, Mekah selain sebagai kota transito dagang, juga adalah kota dimana tradisi-tradisi agama Allah sebelumnya bertemu. Dikota itu ada tradisi-tradisi dari agama Nabi Ibrahim, Ismail, Musa, Isa dan lain-lain. Karena telah melewati masa yang amat panjang, meski tidak seluruhnya, namun disana sini tradisi-tradisi keagamaan tersebut mengalami distorsi dan penyimpangan. Nabi Muhammad SAW datang untuk meluruskan kembali tradisi-tradisi tersebut. Itulah sebabnya, islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW bisa dikatakan sebagai kelanjutan agama hanifiyah (yang lapang, luwes, longgar) yang dibawa oleh nabi Ibrahim. Islam juga membawa muatan
ajaran penegakan hukum yang dibawa oleh Nabi Musa dan ajaran kasih saying yang dibawa oleh nabi Isa. Kaum kafir sulit menghadapi Nabi Muhammad SAW karena nabi Allah tersebut menterukan hal-hal yang sudah dikenal oleh mereka yakni yang sudah dikenal oleh mereka yakni terdapat di dalam tradisi-tradisi agama sebelumnya yang mereka anut.
Nabi Muhammad SAW menyerukan persamaan semua manusia, tidak ada perbedaan antara orang arab dengan yang bukan orang arab, melainkan pada tingkat ketakwaan mereka kepada Allah SWT masing-masing. Nabi Muhammad SAW mengajarkan agar tidak mencuri, berbohong, berzina, mengumpat dan berbagai perbuatan tercela lainnya yang juga dilarang oleh agama-agama sebelumnya. Nabi Muhammad SAW mendorong untuk berbuat kebajikan. Bahwa sebaik-baik diantara kamu ialah yang selalu memberi faedah kepada sesame manusia. Dia juga mengajarkan persaudaraan antar seiman (bukan se-Islam). Persaudaraan seiman lebih luas dari pada se-islam. Seruan Nabi Muhammad yang demikian itu sudah dikenal oleh semua warga Mekah dari tradisi-tradisi sebelumnya.
Hal yang juga menyulitkan kaum kafir mekah memojokan nabi Muhammad SAW adalah karena mereka mengenal sangat baik siapa orang tua, kakek-nenek dan leluhur nabi tersebut, yang berasal dari rumpun keluarga yang baik-baik. Secara khusus yang dapat dicontohkan adalah kakek Nabi Muhammad SAW yang bernama Abdul Muttalib. Selain disegani karena kejujurannya, kakek nabi tersebut juga menjaga tradisi agama yang dianutnya agar tidak tercemar dan menyimpang dari ajaran aslinya. Kakek Nabi itu dan orang-orang yang bersama dengannya tetap menjaga keyakinan tentang adanya hari akhirat dan memelihara kesucian jiwa dengan membiasakan diri bersepi-sepi beribadah di Gua Hira; juga beliau dipercaya sebagai pengurus bangunan suci yakni Kakbah.
Karena sulit mencari titik lemah nabi Muhammad SAW, kaum kafir Mekah itu memilih cara teror dan kekerasan untuk mematahkan seruan Nabi tersebut. Tapi, dengan terror dan kekerasan pun, Nabi menunjukan kekuatannya. Yaitu, tidak melayani terror dengan terror atau kekerasan dengan kekerasan. Terror dan kekerasan dihadapi Nabi dengan kesabaran yang tak tertandingi. “gembirakanlah orang-orang yang bersabar” dan “sesungguhnya Allah bersama mereka yang sabar”, begitu sabda Allah SWT. Keuletan dan ketangguhan ternyata terkandung dalam kesabaran. Nabi Muhammad SAW memenangkan pertarungan di mekah. Dia dan pengikutnya berhijrah ke madinah, dan kaum kafir mekah diliputi rasa putus asa. Di Medinah keuletan dan ketangguhan yang dibungkus Oleh kesabaran it uterus dipraktikan nabi Muhammad SAW.
Dengan kesabaran yang tak ada tandingannya, Nabi Allah itu menyelesaikan misi kerasulannya di Medinah. Nabi diajarkan oleh Allah SWT tentang kunci sukses nabi-nabi sebelumnya ialah kesabaran yang mengandung energi keuletan dan ketangguhan. Coba anda bandingkan dengan sekarang ini, banyak tokoh dan aktifis keagamaan membela nabi dan agamanya tapi kehilangan kesabaran. Bahkan, pembelaan itu mengambil wajah sebaliknya dari kesabaran. Agama yang dibelahpun berwajah pentungan dan hardikan.