Menuju Ummatan Wasathan
Manusia sekarang ini benar-benar berada ditengah arus
globalisasi. Kesiapan umat
islam dalam menyongsongnya, akan sangat menentukan apakah mereka akan menjadi kelompok penonton, pemain pinggiran, atau menjadi pemain yang secara positif menggerakan sekaligus mengarahkan. Kesemua posisi yang di dapat itu, merupakan aspek substansial dalam mengarahkan corak perkembangan yang akan terus bergulir tanpa henti dimasa-masa yang akan datang.
Allah telah menyatakan peran yang harus dimainkan Islam, yaitu sebagai Ummatan wasathan (umat yang serasi dan seimbang), adalah menjadi saksi atas kebenaran dan keagungan ajaran Allah.”Demikian (pula) kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan piliha, agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar
rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”. (QS.Al-Baqarah (2):143).
Penegasan Allah bahwa umat Islam menjadi Ummatan wasathan selayaknya mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari kita semua.
Ciri Ummatan wasathan yang pertama adalah adanya hak kebebasan yang harus selalu diimbangi dengan kewajiban.”barang siapa yang dianugrahi hikma, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak.”(QS Al-baqarah (2): 269).
Ciri kedua dari Ummatan wasathan adalah adanya keseimbangan antara kehidupan duniawi dengan ukhrawi, serta material dan spiritual.
Selanjutnya, Ciri yang ketiga dari Ummatan wasathan adalah keseimbangan yang terwujud pada pentingnya kemampuan akal dan moral. Kemampuan akal manusia tercermin dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi hanya akan mampu menyelesaikan sebagian persoalan manusia, jadi bukan keseluruhannya. Jika ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai produk kecerdasan akal berada ditangan orang-orang yang tidak memiliki moral yang luhur, juga bias menimbulkan malapetaka.”telah tampak kerusakan di bumi dan di laut karena, disebabkan oleh ulah tangan manusia.”(QS Ar-Rum (30):41).
Orang-orang islam harus senantiasa memicu semangat untuk menjadi orang-orang mukmin yang menang disegala tantangan. Baik tantangan eksternal yang berupa lingkungan sekitar kita, maupun tantangan internal yang berada dalam diri kita masing-masing. Alquran sebenarnya telah memberikan resep bagaimana cara mencapai kemenangan itu. Dalam QS Al-Mukmin um ayat 1-11 Allah berfirman, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman(1) yaitu orang-orang yang khusyu dalam sembahyangnya (2) dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna (3) dan orang-orang yang menunaikan zakat (4) dan orang-orang yang menjaga kemaluannya (nafsu seksnya) (5) kecuali pada istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela (6) barang siapa yang mencari dibalik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas (7) dan orang-orang yang memelihara amanat (yang dipikulnya) dan janjinya (8) dan orang-orang yang memelihara salatnya (9) mereka itulah orang-orang yang mewarisi (10) (yakni) yang akan mewarisi surga firdaus, mereka kekal didalamnya”.
Dalam ayat-ayat tersebut diatas, dinyatakan oleh Allah bahwa ada lima syarat yang harus dipenuhi agar tepat pada waktunya dengan memenuhi seluruh syarat dan rukunnya saja, sebagaimana menurut aturan-aturan fikih . Khusyuk adalah persoalan ihsan, menurut Nabi Muhammad SAW, Ihsan adalah melaksanakan ibadah dengan mengkondisikan diri seolah-olah berhadapan dengan tuhan. Dengan begitu salat akan memberikan dampak positif pada kehidupan sehari-hari, sebab fungsi salat adalah mencegah perbuatan keji dan mungkar.
Syarat kedua untuk mencapai kemenangan adalah mengisi hidup ini dengan kegiatan yang bermanfaat dan meninggalkan perbuatan yang sia-sia. Dalam pengertian yang lebih luas, penjelasan ‘anil lahwi mu’ridhuuna adalah menjauhkan diri dari segala perbuatan yang kontradiktif.
Syarat ketiga untuk me
Abstrak lain tentang Fajar : Menuju Ummatan Wasathan