• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

.

Solopos

oleh : warwin    


Antara Pilgub dan Piala Eropa...


 Secara kebetulan, Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jateng 2008, digelar bersamaan

dengan pesta sepakbola Piala Eropa 2008 (Euro 2008) di Austria dan Swiss.


Jangan-jangan karena Piala Eropa pula, gema Pilgub terasa landai-landai saja. Tempat pemungutan suara (TPS) sebagian besar sepi dan warga kurang antusias mencoblos. Seperti halnya Piala Eropa, Pilgub juga menghadirkan suka dan duka, pesta dan air mata. Hari ini, sudah ada pasangan calon dan tim sukses yang nyicil ayem, karena naga-naganya mereka akan menang. Di sisi lain, tak bisa dipungkiri, ada pasangan calon lain yang menyesali kekalahan.


Bagi yang tengah meratapi kegagalan, bolehlah belajar sedikit dari Slaven Bilic, pelatih muda Kroasia nan kharismatik. "Kami akan menyesali kekalahan ini dalam beberapa hari ke depan, tapi hidup terus berlanjut dan besok matahari akan bersinar kembali. Tim juga mampu bangkit dari kekalahan dan kami juga akan melakukannya," kata Bilic . Ungkapan kesedihan yang manis sekali.


Kroasia menangisi kegagalan hanya beberapa saat setelah mereka hampir saja berpesta karena kemenangan rasa-rasanya sudah ada di tangan. Tetapi suratan nasib menghendaki lain. Turki mengambil kemenangan itu, dengan kerja keras pantang menyerah dan keberuntungan.


Pelajaran juga bisa dipetik dari kegagalan Tim Oranye Belanda. Mereka merajalela di babak penyisihan. Semua orang yakin Belanda sangat pantas menjadi juara. Tetapi sekonyong-konyong, Rusia mengejutkan semua orang dengan mengunci Belanda, merontokkan nama besar totaal voetbal Belanda dan menembus babak semifinal.


Kegagalan, kadang-kadang sangat menyesakkan, seakan dunia sejenak berhenti berputar dan butuh waktu untuk menata hati. Tak mengapa. Kegagalan adalah bagian dari hidup, dan kata Sutrisno Bachir, hidup adalah perbuatan. Jadi, tak perlu meratapi kegagalan berlarut-larut.


Orang bijak mengatakan, kemenangan bisa tidak berkah jika tidak dilanjutkan dengan sikap amanah, apalagi jika lantas bersikap jumawa. Sebaliknya, kekalahan yang disikapi dengan dingin, berbesar hati, tidak mencari kambing hitam, bisa menjadi awal dari kemenangan di kemudian hari.


Punya kesamaan


Sepakbola dan politik memang sering kali berimpit, bertemu di tikungan. Keduanya sering kali punya kesamaan, mempunyai sisi-sisi sentimentil, unpredictable dan bisa melahirkan momen-momen yang dramatis.


Di banyak daerah di Indonesia, para kepala daerah menggunakan tim sepakbola daerah mereka sebagai investasi politik. Tempat para penguasa bisa meraup banyak dukungan massa.


Di Thailand, mantan Perdana Menteri yang terusir, Thaksin Shinawatra, meretas kembali jalan politiknya dengan membeli klub sepakbola Inggris, Manchester City. Somjai Phagapavivat, profesor politik dari Universitas Thammasat Bangkok, seperti dikutip Antara, mengatakan membeli klub sepakbola adalah menyangkut publikasi, karena Thaksin memikirkan politik. Membeli klub sepakbola akan menjadi jaminan publikasi yang luas, yang otomatis menjadi sarana kampanye gratis.


Nyatanya, popularitas Thaksin tidak kendur, dan bahkan orang-orangnya kini kembali menduduki pemerintahan Thailand. Jangan-jangan, kelak ada juga politikus kaya Indonesia yang membeli klub sepakbola demi kemenangan politik.


Pemain sepakbola Kolumbia, Luis Suarez, mengatakan di Amerika Latin, batas antara sepakbola dan politik itu samar. Sejarah pernah mencatat apa yang disebut dengan "perang sepakbola", yaitu perang antara Honduras dan El Salvador pada 1969 yang pecah setelah pendukung kesebelasan kedua negara itu bentrok pada penyisihan Piala Dunia 1970.


Di Bosnia, politik dan sepakbola jalin menjalin amat rumit. Seperti dikutip Detikcom, duel Kroasia melawan Turki berbuntut bentrokan antarpendukung di Mostar, Bosnia. Lusinan orang terluka dan segera dilarikan ke rumah sakit, Sabtu (21/6). Kerusuhan di Mostar itu melibatkan warga Bosnia, yang mendukung Turki dan warga berdarah Kroasia. Bentrokan tersebut sebenarnya bukan perkara asing bagi penduduk Mostar. Kedua kelompok warga kota yang terletak di selatan Bosnia itu memang kerap cekcok soal sepakbola. Pada Piala Dunia 2006, saat Kroasia ditundukkan Brasil 0-1, seorang anak menjadi korban tembakan. Pada Piala Dunia 1998, seorang wanita tewas saat pendukung Kroasia merayakan sukses Kroasia melaju ke semifinal.


Dalam ranah kedekatan antara sepakbola dan politik, Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan, mengatakan secara kalkulatif, rakyat yang mendukung partai politik dan partai politik yang memperjuangkan kepentingan pendukungnya, ibarat tim sepakbola yang berjuang demi kehormatan bangsa dan negara serta kegembiraan pendukungnya. Jadi, interaksi antara partai dan pendukung atau konstituennya menjadi bersifat transaksional dan masing-masing pihak mengadopsi langkah-langkah yang dalam kajian game theory disebut "Tit-for-Tat".


Tetapi antara sepakbola dan politik tampak nyata berbeda dalam satu hal: pemenang sepakbola hanyalah kemenangan kelompok tim dan pendukungnya, sedangkan kemenangan politik, dalam bentuk Pilgub atau apapun, tidak boleh hanya mementingkan kelompoknya.


Siapa pun yang menang dalam Pilgub nanti, jangan mengorbankan kepentingan warga dari kelompok manapun, demi kepentingan politik. Maklum, ini perkara sulit di negeri yang pejabatnya sering menjadikan politik sebagai panglima...
Diterbitkan di: Juli 01, 2008
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

Orang yang membaca ringkasan ini juga membaca:

.