Malang Pagi
Summary rating: 2 stars
2 Tinjauan
Kunjungan:
12
kata:
600
Diterbitkan di: Maret 30, 2008
Sang Peminta-Minta Siapapun tentu memahami siapakah pengemis. Yakni, orang yang memiliki pekerjaan meminta sedekah kepada orang lain. Apakah sekedar, bagi mereka yang terbiasa berdiri disepanjang lampu merah, ataukah yang berkeliling keluar masuk kampung, bahkan tidak jarang banyak pula pengemis berdasi, memiliki kendaraan, dan berkomunikasi dengan handphone mewah. Kata orang, pengemis yang sebenarnya, berpakaian dekil, memelas, dan menimbulkan perasaan iba bagi orang lain. Ada pengemis yang berdalih atas kekurangan pada fisiknya, jalannya dibuat-buat, tangan atau kakinya dibungkus perban, atau tingkah laku lain yang pada akhirnya menimbulkan simpati orang lain untuk memberi sedekah. Kata orang pula, di lingkungan pemerintahan, misalnya pemkot atau pemkab, hiduplah sang peminta-minta. Berdalih sebagai sahabat, minta jabatan yang sebenarnya tidak layak untuk disandang karena memang dirinya tidak memiliki kapasitas dan kapabilitas. Ada pula ketua partai, kyai, aktivis ormas, wartawan, bahkan seorang pengusaha tanpa malu-malu, setiap hari mendatangi walikota, menemani, kalau perlu melayani apapun yang dikehendaki sang walikota untuk sekedar diberi sedekah, tentunya bukan sekedar uang recehan, namun proyek-proyek pemkot yang jumlahnya cukup banyak. “Siapa tahu dengan kedekatan yang saya miliki, akan membawa berkah bagi kehidupan dan nasib saya sekeluarga,” ujar mereka senada. Memang hal ini sah-sah saja untuk dilakukan oleh siapapun tanpa terkecuali, apakah saya, anda atau mereka. Namanya berusaha, berbekal tebal muka, berbaju tanpa rasa malu, berhiaskan dirasani orang, jika beruntung tentu akan mendapatkan keinginannya. Masih kata orang, di lingkungan dewan, wakil rakyat yang diharapkan membela rakyat, bergentayangan pula sang peminta-minta. Sesuai tugas dan wewenangnya, berupaya untuk merencanakan, berbicara, dan menciptakan komitmen, tentunya untuk keuntungannya pribadi. Dengan dalih kepentingan rakyat, keinginannya disusun, direncanakan dan sekaligus disetujui sendiri, siapa yang akan berani melawan wakil rakyat yang dipilih oleh rakyat. “Kita mempunyai nilai tawar, kenapa harus dijual murah, mumpung masih menjabat,” bisik mereka diamini bersama oleh anggota dewan lainnya. Itulah sang peminta-minta, seolah tiada beda dengan sang pengemis. Kesana kemari hidupnya untuk mendapatkan sedekah. Sebaliknya, jika tidak bisa meminta secara halus, sesuai prosedur, maupun dengan cara baik-baik. Tentu, mereka akan mencari jalan lain, tidak cukup dengan cara halal, yang haram pun akan dilakukan asal keinginannya tercapai. Jika perlu menggunakan model preman, menggunakan kekuatan agar yang diminta menyerahkan apa yang diminta dan diinginkan. Sang peminta-minta memang selalu ada, mati satu tumbuh seribu, mendapat satu tentu juga akan meminta seribu lainnya.(kyt)