Pameran di Ivane Javakhishvili Tbilisi State University .Lebih dari seratus buku-buku
antik yang dimiliki oleh perpustakaan Ivane Javakhishvili Tbilisi State University untuk dipamerkan di ruang pertemuan
universitas pada 12 Desember. Di antara barang-barang yang dipajang terdapat publikasi pertama georgia
dalam sejarah, "Huruf Georgia dengan Doa", dicetak di Roma apada tahun 1629. Buku ini ditulias dalam bahasan Georgia dan Italia, dan dikirimkan kepada diplomat Nikopere Irbakhi di Georgia. "Misi diplomatiknya mengalami masa sulit kemudian, ketika Georgia sedang mengalami masa sulit," kata Gia Khubua, rektor dari universitas. "Tetapi sekarang kami memiliki buku yang unik." Buku tersebut berada di antara buku-buku tertua yang dipamerkan. Acara tersebut juga memamerkan beberapa buku tertua dalam bahasa Italia, Rusia, Jerman, Inggris, Arab, dan dalam bahasa lainnya dari seluruh dunia, seperti sebuah volume dari puisi Italia bertahun 1547. Eksebisi juga didukung oleh Departemen Hubungan Luar Negeri dari Ivane Javakhishvili Tbilisi State University. Tea Gergetava, dari Departemen Hubungan Luar Negeri, mengatakan mereka hanya memamerkan beberapa harta universitas saja dan tidak untuk jangka panjang. "
sangat berharga dan sangat rapuh, and akan disimpan kembali dalam perpustakaan setelah pameran," katanya. Sejumlah petugas, termasuk Menteri Kebudayaan Khobua Nika Vacheishvili and cukup banyak duta besar luar negeri menghadiri pameran tersebut. Perwakilan PBB di Georgia Robert Watkins, mengakui dia akan dengan senang hati jika bisa membeli semua buku yang dipamerkan. "Saya sangat menyukai buku, dan sejujurnya saya mengharapkan akan ada penjualan dalam pameran ini... Saya sangat senang melihat semua buku-buku yang menarik ini, dan ini adalah kunjungan pertama saya di ruangan ini. Saya sudah pernah berkunjung di universitas ini sebelumnya, tetapi tidak pernah ke ruang pertemuan" katanya dengan antusia. "Ini adalah tempat yang yangat indah untuk memamerkan buku-buku." Pilihannya banyak, kata Watkins. Bernd Schroder, seorang profesor di universitas ZAArland, mengatakan ini adalah kunjungan pertamanya pada pameran buku di Georgia. "Bagi kami orang luar negeri, sangat menarik untuk melihat buku-buku tua. Mereka sangat berharga," dia berkomentar. Tamu profesor dari Jerman, Dr. Armin Mortiz mengatakan dia adalah sebagian besar dari buku Jerman yang dipamerkan. Khubua, rektor universitas mengatakan bahwa universitas akan membuka sebuah museum ilmu dan pendidikan untuk memamerkan beberapa publikasi langka ini, dan untuk memberikan pandangan sekilas dari sebagian kecil budaya Georgia kepada turis luar negeri dan turis lokal pula. "Museum ini akan menjadi salah satu cara terbaik bagi orang-orang untuk lebih mempelajari tentang Georgia dan warisan budayanya yang kaya. Orang harus mempelajari bahwa sejarah dari universitas Gerogia tidak dimulai pada tahun 1918, tetapi memiliki akar yang lebih dalam dalam Ikalto Gelati akademi," kata Khubua. Dia menambahkan bahwa catatan internasional yang dipamerkan membenarkan bahwa Georgia selalu memiliki hubungan dengan budaya yang lain--dan bahwa Georgia sudah membaca buku sejak catatan pertama dicetak. "Buku tertua yang dipamerkan di sini pada hari ini diterbitkan di Guterberg, beberapa tahun setelah buku yang pertama kali diterbitkan terlihat.... Budaya Georgia selalu terbuka dan selalu mengadopsi budaya lain yang dapat ditemukan. Saya percaya buku yang anda lihat di sini berharga tidak hanya dari usianya, tetapi karena mereka adalah buku klasik yang akan selalu memiliki pembaca, dan tidak pernah terlalu tua untuk dibaca," kata Khubua. Saat ini, universitas bersama dengan Menteri Kebudayaan melakukan sebuah proyek, dengan dana dar kantor presiden, untuk memperbaiki koleksi buku-buku tertua. "Perbaikan akan dilanjutkan dengan pameran sehingga tidak semudah itu untuk melakukan proses tertutup di dalam laboratorium tetapi sesuatu yang dapat dilihat oleh siapapun yang tertarik." kata pejabat kementrian kebudayaan Vacheishvili.