.
Benarkah Elektibilitas SBY-Budiono 71%
Pengarang
: joko
-
Summary rating: 1 stars
(1 Tinjauan)
-
Kunjungan : 95
-
kata:600
-
Comments
:
0
Hem..memang kalau lagi masa kampanye dimana-mana suasana jadi panas . mulai dari kampanye saling sindir (padahal kan
dah dklarasi kampanye damai..), kecurangan tim sukses dan lain-lain..dan saat ini yang juga lagi nge trend adalah masalah hasil survei yang dilakukan lembaga survei mengenai tingkat elektibilias CAPRES dan CAWAPRES…huhhh…namanya juga politik..ckckckckcck
Dari berbgai lembaga survei yang melakukan survei menyatakan bahwa Elektibilitas SBY-Budiono adalah 71% (wah…kalau kayak gini alamat putaran PILPRES berjalan hanya satu kali…tapi benarkah itu..???
Menurut Effendi Ghazali (engamat komunikasi politik dari Universitas Indonesi)..Mustahil tingkat keterpilihan (elektabilitas) pasangan capres cawapres SBY-Boediono mencapai 71 persen sebagaimana dirilis sejumlah lembaga survei.. menurut Effendi Ghazali tingkat elektibilitas maksimal pasangan ini hanya sekitar 51.7 persen. Dari mana angka elektibilitas tersebut?
Effendi mengatakan angka itu diperoleh dari dua kali jumlah perolehan suara Partai Demokrat dalam Pemilihan Legislatif lalu ditambah 10 persen. Jumlah perolehan suara Demokrat dalam Pileg lalu 20.85 persen. Jika dikali dua menjadi 41.7 persen.
Dikali dua, menurut Effendi, karena faktor dominan kemenangan Demokrat dalam Pileg kemarin adalah figur SBY. Angka 10 persen adalah angka moderat untuk dukungan yang diperoleh berdasarkan ajakan elit parpol dan juga parpol pendukung terhadap konstituennya.
“Itu juga dengan asumsi pasangan lain itu diam-diam saja, tidak bergerak,” tutur Effendi dalam rilis survei Soegeng Sarjadi Syndicate Pilpres: Satu Putaran vs Dua Putaran di Hotel Four Season Jakarta, Sabtu (13/6).
Oleh karena itu, menurut Effendi, mustahil jika Pilpres berlangsung hanya dalam satu putaran jika penurunan tingkat elebilitas terus terjadi dan pasangan lain terus bergerak dengan aktif. “Maka ya, Pemilu ini nantinya cenderung dua putaran,” tandas Effendi.
Namun, Effendi juga mengingatkan bahwa seserius dan seindependen apapun survei-survei yang dilakukan, hasilnya juga akan sangat tergantung pada Daftar Pemilih Tetap (DPT). Pasalnya, survei-survei ini dilakukan atas acuan sebaran Daftar Pemilih Sementara (DPS) dan pemilih di atas 17 tahun.
“Kenapa? Menurut saya, barangkali tidak ada orang lain yang tahu DPT nanti seperti apa kecuali Tuhan dan mereka yang mengurusnya. Jadi mungkin saja anda melakukan survei-survei tapi nanti hasilnya meleset karena DPT-nya berbeda,” ujar Effendi.
Diterbitkan di:
Juni 15, 2009
Lainnya tentang Surat kabar
Ringkasan lain oleh messidona
More