Sempoa Belajar
matematika dengan metode Mental
Aritmatika Sempoa. Metode ini mengajarkan
berhitung dengan menggunakan sempoa, yaitu alat bantu dari kayu dengan jeruji berisi manik-manik yang dapat digerakkan ke atas dan ke bawah.
Metode ini dapat mengoptimalkan cara berpikir, khususnya fungsi otak kanan yang memuat daya analisis, daya ingat, logika, imajinasi, sekaligus kreativitas. Dengan memakai sempoa, kita dilatih menghitung penjumlahan, pungurangan, perkalian, pembagian, dan akar kuadrat sambil melatih kesabaran, konsentrasi, ketelitian, dan kedisiplinan. sempoa dapat membuat kita lebih percaya diri karena dapat menghitung dengan cepat dan tepat.
Sempoa juga sering disebut abakus, yang dalam bahasa Yunani berarti menghapus debu. Dulu, di Yunani orang menghitung dengan sebilah papan yang ditaburi pasir.
Abakus berkembang menjadi papan bergaris-garis dengan manik-manik. Kemudian, orang Cina mengembangkan Abakus menjadi dua bagian, yaitu jeruji atas berisi dua manik-manik, jeruji bawah berisi lima manik-manik. Lantas orang Jepang mengubah susunan menjadi satu manik di jeruji atas dan empat manik di jeruji bawah. Sempoa Jepang ini yang dipakai di Indonesia.
Jaritmatika
Metode Jaritmatika adalah cara belajar menghitung dengan menggunakan sepuluh jari tangan.
Metode ini ditemukan oleh Kartini Indonesia yaitu Ibu Septi Peni Wulandari dari Salatiga, Jawa Tengah, pada tahun 2003. Jaritmatika merupakan gabungan dari kata "jari" dan "
aritmatika".
Jaritmatika mengajak kita belajar berhitung sambil bermain. Makna setiap jari dan rumus
matematika diberikan lewat yel dan nyanyian. Di Jaritmatika, jari tangan kanan untuk satuan dan jari tangan kiri untuk puluhan.
Dalam Jaritmatika, angka satu dilambangkan dengan telunjuk (itu), dua (kres-guntingan), tiga (cep-garpu), empat (hap-ekor ikan), lima (jos-jempol), enam (dor-pistol), tujuh (gem-senapan), delapan (nyam-makan), sembilan (tos antar teman). Semua istilah ini diajarkan sambil bernyanyi sehingga anak umur tiga tahun pun sudah dapat mempelajarinya.
Dengan metode ini, matematika menjadi pelajaran yang menyenangkan, dapat dilakukan kapan dan dimana saja. Terlebih dapat kita ajarkan pada anak kita. Metode ini sudah digunakan diberbagai negara seperti Swedia, China, Singapura dan Malaysia.
Kumon
Metode Kumon dikembangkan pertamakali oleh Toru Sukamoto, guru matematika Jepang, pada tahun 1954. Kumon mengajak kita mengerjakan soal hitungan secara mandiri. Contoh soal belajar penembahan yang termudah : 1+1=2, 2+1=3, 3+1=4, 4+1=5, 5+1=6 dan seterusnya sampai mencapai ribuan bahkan jutaan. Tetapi anehnya mereka yang menggunakan Kumon bisa berlatih dengan gembira tanpa merasa kesulitan.