Rabu 10 Desember 2008 08:27 Cara Tepat Pilih Kosmetik
Aman (2) Pelarangan
dan penarikan sejumlah kosmetik mengandung bahan berbahaya belakangan
ini memang bukan tanpa alasan. Penggunaan bahan-bahan tadi yang bisa
berbahaya bagi konsumen, memang tidak langsung terasa dalam sekali
penggunaan.
Namun, penggunaan kosmetik mengandung bahan berbahaya dalam kadar,
frekuensi, dan jangka waktu yang lama atau di atas kemampuan toleransi
tubuh, akan menjadi sangat berbahaya. Hidroquinon misalnya, pada
dasarnya masih boleh dipergunakan dalam kadar 2 - 5 persen, dan tidak
digunakan dalam jangka waktu lebih dari 6 bulan.
Penggunaan hidroquinon yang terlalu lama, ungkap Irma, dapat
menyebabkan ookronosis atau kulit menjadi hitam kebiruan. Efek lebih
serius lainnya, dapat menyebabkan kanker kulit, gangguan saraf pusat
(tremor), leukemia, menurunkan vertilitas, dan dapat menyebabkan
retardasi mental pada fetus (janin).
Merkuri atau zat kimia berkode Hg, termasuk logam berat yang tak
mudah terurai dalam tubuh. Merkuri hanya boleh ada dalam darah sebanyak
5 mikrogram per liter. Reaksi pada pemakaian topikal (dioles) juga
dapat menimbulkan gatal, merah di kulit, dizziness, disorientasi ruang,
juga gangguan pada saluran kemih.
Sedangkan efek jangka pendek yang mengganggu estetika adalah
munculnya kondisi pigmentasi atau perubahan warna kulit menjadi lebih
terang atau gelap, yang bersifat lokal. Membuat kulit tampak
belang-belang dan tak indah dilihat.
Jika digunakan secara topikal, merkuri dapat menembus hingga ke lapisan
kulit sedalam 2-3 mm, dan mencapai pembuluh darah. Setelah terakumulasi
dalam tubuh, merkuri dapat menyebabkan gangguan pada ginjal, paru-pari,
dan saraf pusat.
Penggunaan pewarna sintetis rodamin-b, pada beberapa orang dapat
mencetuskan reaksi alergi. Namun yang paling dikhawatirkan adalah efek
jangka panjagnya dapat menyebabkan kanker.Atasi Dampak Negatif
Penggunaan bahan tambahan pada kosmetik memang memberi efek dramatis
yang diharapkan konsumen. Rona merah pada pipi dan bibir yang akan
menjadikannya lebih menarik, kulit tampak mengilap, dan berubah menjadi
semakin cerah.
Namun, jika sudah menghadapi dampak negatifnya, terutama berkaitan
dengan penampilan kulit, si pengguna pasti baru akan berpikir untuk
meninggalkan kosmetiknya. Padahal, bila sudah menimbulkan pigmentasi
dan ookronosis, menurut Irma, agak sulit mengatasinya.
Masalah pigmentasi misalnya, walaupun bisa diatasi dengan tindakan
laser, tetap tak bisa mengembalikan warna kulit ke semula. "Hanya
sekitar 95 persen saja yang bisa dipulihkan. Selebihnya ditutup dengan
make up," kata Irma.
Sedang untuk ookronosis, masih dapat diupayakan dengan menggunakan
krim yang cara kerjanya mempercepat eksfoliasi (pengelupasan) dari
kulit. Sehingga, kulit yang menua dan berwana lebih gelap akan cepat
terangkat. Namun, tindakan ini hanya mengurangi hingga 80 persen saja
pada kulit yang berwarna kebiruan.
Laili Damayanti
Foto: Dhoni Setiawan/KCM