Le Grand Voyage, adalah sebuah film prancis , yang mengkisahakan seorang anakdan bapak yang melakukan perjalanan haji
melalui jalur darat .
Dari Prancis mereka menelusuri daratan Eropa, terbentur badai salju di Bulgaria, tersangkut immigrasi diperbatasan Turki, ditipu mentah-mentah di Istambul , dan melanjutkan perjalanan haji tanpa uang sama sekali . Karena semua telah dipersiapkan dengan matang ,uang yang sediakalanya untuk ongkos pulang , yang di simpan didalam sabuk ia yang kenakan ,maka untuk sementara, selamatlah mereka dari kelaparan dan gagalnya perjalanan .
Ketika ditanya kenapa jalan darat yang dipilih untuk berhaji, sang ayah menjawab : " air laut menjadi tawar setelah turun dari awan ."
Film Le Grand Voyage inimenggambarkan betapa pentingnya suatu ' proses' .
Betapaun sukarnya, kalau dinikmati, maka selalu memberikan imbalan yang lebih besar . Imbalan bisa berupa pensucian diri, seperti air laut yang telah ditawarkan dalam proses menjadi hujan. Bisa juga berupa proses kematangan, seperti matangnya pencari kebenaran setelah melalui ribuan proses kehidupan .
Lalu bagaimana dengan prilaku kita hari ini ? Kita selalu benci dengan kesusahan . Kita kadangkala lebih memilih jalan pintas ( proses yang mudah ) dari pada melalui proses yang seharusnya kita lalui .
Aspirin dan pain killer diciptakan untuk meredam rasa sakit . Kita tutupi rasa sakit itu dengan membuat kebas bagian tubuh yang seharusnya sangat peka . Kita tutupi rasa kecewa dan gundah dengan cara makan, shopping ,jalan-jalan ,dan mencari hiburan , ketimbang mencari tahu penyebab kegundahan jiwa itu . Dan begitu terserang flu, berbagai macam obat kita konsumsi untuk menaklukan gejala , padahal masalahnya adalah daya tahan tubuh yang melemah .
Andai saja kita rela dan iklas dengan kondisi yang kita alami , tentu akan lebih menuai mamfaat . Karena kita tidak sabar, sehingga kita terlalu cepat membunuh rasa sedih, terlalu cepat membunuh rasa penat dan akhirnya melupakan proses .Lambat laun kita menjadi kebas dan menjadi kebal. Lambat laun kita akan menjadi imun .
Bukan saja imun pada virus dan bakteri , tetapi juga imun terhadap perasaan orang lain dan penderitaan sesama . Kita tak mampu lagi merasa sesuatu yang sepatutnya kita rasakan .
Kita wajib mengalami
derita, agar lebih mampu memaknai bahagia . Harus mengetahui kesempitan, agar mampu mensyukuri kelapangan . Agar kita mampu berempati dengan tulus , bersimpati dengan jernih atas kesempitan , kesukaran , dan penderitaan orang lain .
Sesekali , cobalah berjalan lebih perlahan , agar banyak yang dapat kita tangkap dari peristiwa sekitarnya . Sesekali, kurangi intonasi dan volume suara , agar lebih banyak yang bisa kita dengar .