• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Film>Film Horor>Mengapa Film Horor (1)

.

Mengapa Film Horor (1)

oleh : mdolfian    

Pengarang : Hikmat Darmawan
">

Film horor adalah salah satu genre utama dalam film. Genre adalah sekumpulan pakem dalam unsur-unsur naratif. Dalam film, unsur-unsur naratif yang terpola itu tentu mencakup unsur-unsur visual.

Genre film horor kurang lebih adalah sekumpulan film yang dimaksudkan untuk memancing atau menerbitkan rasa takut pada penonton.

Menurut Wikipedia, film horor adalah:

…are designed to elicit fright, fear, terror, disgust or horror from viewers. In horror film plots,evil forces, events, or characters, sometimes of supernatural origin, intrude into the everyday world.

(...dirancang untuk menerbitkan rasa ngeri, takut, teror, jijik, atau horor dari para penontonnya. Dalam plot-plot film horor, berbagai kekuatan, kejadian, atau karakter jahat, terkadang semua itu berasal dari dunia supernatural, memasuki dunia keseharian kita.)

Dalam pengertian ini, film horor memusatkan diri pada tema kejahatan (evil) dalam berbagai ragam bentuknya. Rasa takut, teror, jijik (sebuah rasa yang menarik kita bahas nanti, khususnya dalam membahas film-film horor Indonesia), atau horor adalah efek yang diinginkan.

Evil” atau kejahatan dalam pengertian Barat (Eropa-Amerika) sangat dipengaruhi oleh mitologi iblis dan kejahatan dalam tradisi Yudeo-Kristiani. Pertama-tama, tumpang-tindih antara pengertian “kejahatan” dan “iblis” dalam bahasa Inggris. Memang, ada kata “devil”, yang lebih jelas menunjuk pada setan/iblis dalam Bahasa Indonesia.

Kedua, dalam tradisi Yudeo-Kristiani, “iblis” dan wadyabalanya (Satan, Lucifer, Beelzebub, segala jenis setan dari zaman antik, hingga ke setan-setan lokal di pelbagai daerah di Eropa yang di-‘angkat’ juga dalam tradisi Gereja lokal), sebagai perwujudan fisik dari kejahatan, biasanya mengambil bentuk makhluk buruk rupa yang menakutkan (monster).

BEDA “TEROR” DAN “HOROR”

Yang pertama kali membedakan antara “teror” dan “horor” dalam literatur modern adalah Ann Radcliffe. Ia mengangkat isu ini dalam sebuah esai tentang topik supernatural dalam puisi, pada majalah The New Monthly Magazine (1826). Dalam esai berbentuk percakapan imajiner itu, Radcliffe –seorang penulis horor “gothic” – menyatakan:

Terror and Horror are so far opposite, that the first expands the soul and awakens the faculties to a high degree of life; the other contracts, freezes and nearly annihilates them. (Dikutip dari Wikipedia)

(Teror dan horor amatlah bertentangan. Teror meregangkan jiwa dan membangunkan unsur-unsurnya hingga ke tingkat hidup yang tinggi; sedang horor mencekam, membekukan, bahkan nyaris memusnahkan jiwa dan segenap unsur-unsurnya.)

Davendra P. Varma, dalam The Gothic Flame (1966), yang mengangkat pembedaan dari Radcliff itu, lebih jauh menerangkan bahwa beda teror dan horor adalah seperti beda antara terciumnya bau kematian, dengan tersandung sesosok mayat. Bau kematian adalah sesuatu yang sumir, kabur, memicu imajinasi. Mayat, apalagi yang termutilasi, misalnya, adalah sesuatu yang gamblang, wujud kematian paling wadag.

Teror bergerak di wilayah ketakjelasan itu. Horor bergerak di wilayah gamblang: segala hal yang mengancam itu diwujudkan, wadag, langsung kita hadapi.

Keduanya bisa saling menyeberang. Sebuah kejadian supernatural, misalnya penampakan hantu dalam Sixth Sense (M. Night Saymalan), bisa mengandung teror sekaligus horor.

Kadang satu unsur lebih dominan dari yang lain. Iblis dalam Rosemary’s Baby (Roman Polansky), misalnya, hanya muncul dalam adegan seperti mimpi dan sepanjang film hanya muncul secara sugestif lewat percakapan, sindiran, dan bekas-bekas kehadiran yang tak bisa dipastikan. Toh kita merasakan kengerian yang dialami Rosemary. Sebaliknya, iblis(-iblis) diEvil Dead III: Army of Darkness (Sam Raimy), tampil di sekujur film dengan wajah-wajah buruk mereka.

Dalam praktik, penyebutan “film teror” kurang populer. Lebih sering, unsur-unsur teror dianggap sebagai bagian dari “film horor”.

Ada pengertian lain, tentu. Menurut sebuah artikel di filmsite.org, film horor:

…are unsettling films designed to frighten and panic, cause dread and alarm, and to

Diterbitkan di: Juni 29, 2009
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

Orang yang membaca ringkasan ini juga membaca:

.