Dari judulnya saja seakan-akan seperti sebuah permohonan. “Tariklah aku ke Neraka”, begitu kira-kira arti dari judul
film ini. Film ini mengingatkan saya pada film the Pan Labyrinth, Mahkluk berkepala domba. Ceritanya bisa di bilang lumayan menarik, sebuah film horror di malam Halloween.
Ceritanya di awali dengan sebuah keluarga petani yang membawa putranya yang masih anak-anak ke seorang dukun (kelihatannya Meksiko). Anak itu mendengar suara-suara panggilan yang aneh dan mengajak sejak dia mencuri sebuah kalung amulet. Dukun gagal menyelamatkan putra petani ini. Tangan-tangan dari orang-orang yang tinggal di dalam api membara(baca: neraka) menarik jiwanya bersama mereka.
Baru cerita bersambung di puluhan tahun kemudian, seorang wanita, Christine yang mengurus kredit pinjaman nasabah di sebuah bank di AS mendapatkan kedatangan seorang nenek tua. Dia memohon pinjaman di perpanjang karena tidak mampu membayar rumah lamanya, Christine mencoba menanya kepada atasannya soal pinjaman nenek ini. Atasan menyerahkan keputusan kepadanya mengingat dia sendiri pun sudah mengajukan posisi asisten manajer maka ia harus belajar membuat keputusan itu sendiri. Ia pun memutuskan untuk menghapus pinjaman itu dan membiarkan rumah ini di sita oleh bank.
Awal pertemuan dan penghapusan pinjaman ini membawa Christine, sang petugas ini bertemu dengan mimpi buruknya. Malam itu juga, si nenek tua yang tidak terima ini menunggu dan menyerangnya di lataran parkir. Singkat cerita sebelum sang nenek itu menghilang, sebuah kancing mantelnya di mantrai oleh nenek tua yang mempraktekkan ilmu sihir.
Setelah melaporkan penyerangan kepada polisi, ia mendatangi seorang peramal masa depan ketika hendak pulang bersama pacarnya. Sang peramal berkebangsaan India mencoba melihat ke masa depan Christine dan terperangah sekaligus ngeri dengan masa depan Christine dari sejak itu.
Seseorang telah memberikan tanda kepadanya dan membuatnya di kejar oleh
setan pemakan Jiwa manusia, Lamia. Pulang dengan setengah percaya dan tidak percaya, ia mulai mendapati dirinya di terror oleh setan itu di manapun dia berada. Lamia terus mengikutinya kemanapun. Di tempat kerja, di rumahnya sendiri sampai di rumah pacarnya. Ia pun menyembelih kucing kesayangannya untuk di jadikan tumbal bagi setan Lamia ini agar ia kembali tidak di ganggu, namun tampaknya semuanya sia-sia.
Di tengah putus asa sangat, Sang peramal India ini menyarankan untuk bertemu dengan temannya. Dukun yang sama menyaksikan putra petani itu di tarik ke dalam api neraka di purinya. Berempat bersama mengundang roh-roh itu datang untuk menanyakan kemauan dan keinginan setan Lamia ini sendiri. Negosiasi hingga pergulatan dengan setan berkepala
kambing ini pun terjadi di sebuah ruangan pengundang arwah milik dukun ini. Singkat kata Lamia kalah dan berhasil di usir namun nyawa sang dukun adalah tebusannya. Dikira masalah selesai, sang peramal mengatakan kepada Christine untuk membuang atau memberikan kancing baju yang telah di beri mantra sama nenek tua itu kepada orang lain agar kelak tidak kembali di kejar oleh setan berkepala kambing ini lagi. Ia mencari siapa yang pantas di berikan ‘hadiah’ ini dan dia memutuskan untuk mengembalikannya kepada nenek tua yang sudah meninggal itu dengan cara menggali kuburannya dan memasukkan kancing mantel itu ke tangan nenek tersebut.
Ada kesan dan pesan moral tersendiri dari cerita ini. Hal ini sangan tergantung dari kemampuan masing-masing penonton dalam menangkap makna yang tersirat di dalamnya untuk di kaitkan dalam kehidupan pribadinya.