Sebuah film yang jelas menghabiskan dana yang besar!! rekruitmen pemainnya saja membutuhkan audisi dalam waktu yang panjang.
Bagaimana seorang mahasiswa Indonesia yang kuliah di negeri Spinx dengan dana pas-pasan? Pasti konsentrasinya terpecah sehingga akan lebih lama lulus walau berotak encer. Film ini diadaptasi dari tulisan habiburrahman el Shirazy tentang Azzam yang ga lulus-lulus kuliah di Al Azhar Mesir karena harus membagi perhatian dengan jualan pempek untuk menghidupi kuliahnya.
Setting keterbatasan tokoh utamanya ini seakan bertolak belakang dengan buku kang Abik yang lain yaitu Ayat-Ayat Cinta yang berkesan serba sempurna. Rupanya penulis mencoba membayar kesalahan bahwa menampilkan sosok yang terlalu sempurna justru membuat orang mudah bosan. Perasaan senasib dengan azzam dapat membuat penonton berkhayal seandainya dirinya adalah pelaku di film tersebut (ehm...)
Akrobatik cinta dan perasaan suka berjumpalitan di film ini sebagaimana film AAC, rupanya inilah bagian kekhasan kang Abik dalam mengelola setting cerita cinta orang-orang yang notabene faham bahwa menyalurkan cinta tidak dapat disalurkan vulgar kecuali dalam bingkai pernikahan. Chaerul Umam sang sutradara kawakan cukup piawai menyampaikan intisari cerita secara lebih halus. Namun sayang, seri film KCB tidak semenarik novelnya, inilah tantangan yang biasanya sulit dijabanin orang-orang film, memindahkan imaji penulis dalam dunia realita.