• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Film>Jamila dan Sang Presiden

.

Jamila dan Sang Presiden

oleh : SuseZumaidy     


Jamila dan Sang Presiden 
    Jamila (Atiqah Hasiholan) adalah seorang wanita pekerja seks komersial (PSK) yang menyerahkan
diri kepada polisi karena telah membunuh Mentri Nurdin (Adjie Pangestu). Selama di penjara ia mendapat tekanan baik dari kepala sipir (Christine Hakim), maupun organisasi massa keagamaan yang diprovoaksi oleh seorang ustad palsu (Fauzi Baadilah), yang mengecam tindakannya, serta menuntut polisi untuk mengeksekusi mati wanita itu. 
    Jamila mempunyai latar belakang yang kelam. Sejak kecil ia telah dijual oleh ayahnya sendiri kepada seorang mucikari dan dijadikan pekerja seks cilik. Berhasil kabur dari sang mucikari, Jamila kembali ke pangkuan ibundanya. Untuk melindungi anaknya, Jamila kemudian dititipkan oleh ibunya kepada keluarga Wardiman di Jakarta. Jamila berangkat dengan berat hati karena harus meninggalkan adiknya, Fatimah, yang ia khawatirkan akan mengalami nasib yang sama dengan dirinya. Namun karena desakan sang ibu, Jamila pun berangkat dengan pesan pada adiknya bahwa ia akan mencari uang dan menyekolahkan gadis itu hingga menjadi orang. 
    Nasib buruk rupanya tak hendak pergi dari kehidupan Jamila. Pak Wardiman dan anak lelakinya ternyata sama-sama melampiaskan hasrat lelaki mereka pada gadis remaja itu. Bu Wardiman yang tuna netra dan lumpuh mulai mengendus ketidakberesan di dalam rumahnya. Tak tahan akan keadaannya, Jamila remaja (Eva Celia Latjuba) akhirnya nekad membunuh bapak dan anak tersebut, kemudian kabur dari rumah itu. 
    Jamila kembali kepada ibunya, namun tak bertahan lama, karena ancaman lelaki jalang kembali didapatinya di rumah. Ia pun kabur meninggalkan ibunya dan Fatimah. Di tengah pelariannya, ia bertemu dengan Susi (Ria Irawan), seorang PSK, yang terjaring rahazia polisi. Jamila yang merasa telah ternoda hidupnya, akhirnya memilih tinggal bersama Susi dan menekuni profesi PSK dengan satu tujuan untuk mengumpulkan uang demi sekolah adiknya, Fatimah. Namun Jamila kemudian mendengar kabar bahwa adiknya juga telah dijual oleh sang ayah dan bekerja sebagai PSK cilik di Kalimantan. 
    Jamila segera pergi ke Kalimantan dan menyamar sebagai PSK di sebuah rumah bordel, dengan tujuan mencari adiknya. Di Kalimatanlah pertama kalinya ia bertemu dengan Mentri Nurdin, yang akhirnya menjadi pelanggan tetapnya. Jamila shock ketika tak menemukan Fatimah, dan sejak saat itu ia mulai menjadi seorang pemerhati masalah perdagangan anak (children trafficking) yang telah menjerumuskannya, Fatimah, dan banyak anak miskin bernasib sama dengannya, ke dalam jurang prostitusi. 
    Sejak bertemu dengan Nurdin, Jamila seperti mendapat arti kehidupan yang baru, di mana ia betul-betul dicintai oleh seorang lelaki. Namun takdir rupanya berkata lain, Nurdin secara mendadak menyampaikan bahwa ia akan menikah dengan wanita pilihan ibunya. Jamila naik pitam, ia pun mempermalukan Nurdin di depan umum pada sebuah acara lelang lukisan. Nurdin geram dan menemui Jamila di kamar sebuah hotel untuk membuat perhitungan, yang berakhir dengan kematiannya di tangan Jamila. 
    Sebelum menyerahkan diri kepada polisi, Jamila bertemu dengan Ibrahim (Dwi Sasono), seorang pengusaha yang jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama. Berbagai upaya dilakukan pria itu untuk membebaskan Jamila, namun selalu mendapatkan penolakan dari wanita itu. Atas saran Ibu Ria, kepala sipir, yang akhirnya berbalik bersimpati padanya, Jamila meminta grasi kepada presiden. Namun sampai dengan 30 menit sebelum eksekusi matinya, tak ada satupun tanda-tanda pemberian grasi dari Sang Presiden. Berakhirlah hidup Jamila, seorang PSK, yang terjerumus ke dalam lembah hitam akibat jeratan kemiskinan yang telah membuahkan kekejian pada diri ayahnya. Siapa yang peduli nasibnya, sekalipun Sang Presiden! 
    Meskipun beralur lambat, film yang digarap Ratna Sarumpaet ini layak ditonton karena sangat sarat akan pesan kemanusiaan dan kritik sosial-politik, tentunya. Salut untuk Sang Sutradara dan produser yang cukup berani mengeluarkan tontonan serius ini, di tengah-tengah maraknya film horor dan drama romantis yang lebih menarik minat penonton! 
Diterbitkan di: Agustus 11, 2009
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.