Sebuah cerita yang indah selalu membuat kita terpesona, bahkan sampai fanatik karenanya. Hal itu kadang membuat kita membuat
deduksi: jika kisahnya menarik, maka penulisnya pun pastilah orang yang menarik! Saat kita membaca novel karya Andrea Hirata, kita langsung menggambarkannya sebagai pria dengan rambut kritingnya yang unik dan berkepribadian menarik. Pilihan kosakata dalam novelnya yang cerdas juga membuat kita terpana akan kecakapan bahasanya. Fisik dan rupa tak lagi jadi yang utama, yang penting bagaimana ia membawa kita terhanyut melalui novel-novelnya. Tetapi, bagaimana jika ia, yang sebelumnya hanyalah penulis cerita, benar-benar menjadi “tokoh utama” cerita melalui sebuah film?
Pemikiran tentang kisah seorang penulis cerita pertama kali menghinggapi benak saya saat saya menonton film Macbeth karangan Shakespeare. Jika cerita Macbeth, Romeo and Juliet begitu menyentuhnya, apakah demikian pribadi penulisnya? Kebanyakan cerita dibangun atas dasar pengalaman pribadi penulisnya, jadi apakah kehidupan Shakespeare seperti itu? Kenapa ia menulis kisah-kisah itu? Saya benar-benar dibuat penasaran akan kehidupan sang penulis ini.
Lambat laut, saya mempunyai kebiasaan untuk mencari tahu tentang pribadi seorang penulis terutama setelah saya membaca karangan atau karya-karya mereka. Umumnya mereka memang mempunyai ‘latar belakang’ yang hampir sama dengan tokoh karangan mereka. Seperti Sir Arthur Conan Doyle, ia juga adalah seorang dokter yang pernah bertugas di Afrika Selatan dan saat perang Broer, hampir sama dengan karakter Dokter Watson dalam seri Detektif Sherlock Holmes karangannya. Saya jadi bertanya-tanya bagaimana jika biografinya sendiri yang difilmkan, akankah sesukses novel dan buku-bukunya yang lain?
Skeptisme saya akhirnya terjawab lewat film biografi Jane Austen (diperankan oleh Anna Hathaway) dan Beatrix Potter (diperankan Renee Zellweger). Kedua film yang dibintangi pemain-pemain papan atas Hollywood ini menuai sukses dan pujian. Mungkin alur ceritanya sederhana, bagi sebagian orang, tapi tetap punya makna dan saya rasa itulah yang utama. Bahkan seandainya kehidupan seorang pengemis miskin pun yang ditulis dan difilmkan, tetap saja akan ada artinya. Akhirnya saya berani berasumsi, kehidupan pribadi seorang penulis cerita tidak akan kalah dengan cerita karangan mereka. Itu karena setiap penulis cerita pasti punya cerita kan? *HJ*