• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Film>Dragonball Evolution Yang Gagal Total

.

Dragonball Evolution Yang Gagal Total

oleh : Setiyo     


Jika Anda membaca berbagai versi komik berseri Street Fighter maupun Dragonball, Anda akan menemukan benang merah yang menjadi
bumbu terpenting dalam kisah-kisahnya. Adalah dua kata; fiksi dan hiperbolis yang dimaksudkan di sini. Bola sinar (yang diucapkan “Hadoken” atau “kamehameha”) menjadi kekuatan super yang terkenal di kedua komik ini, dan pastinya menjadi tolak ukur kehebatan sang jagoan. Ketika film Street Fighter yang dibintangi oleh Jean Claude Van Damme sebagai William F. Guile muncul dengan trailernya di televisi, terus terang, saya merasa senang sekaligus ragu-ragu. Pasalnya, saya yakin sekali waktu itu (bahkan sampai sekarang) untuk membuat film berbasis cerita jagoan-jagoan yang memiliki kekuatan super dibutuhkan teknologi animasi paska produksi yang canggih dan proses casting yang sangat melelahkan. Street Fighter memang mengecewakan waktu itu, walaupun menghibur. Plot cerita yang diubah, proses casting yang sangat tidak relevan, dan teknologi perfilman yang ala kadarnya pada saat itu. Jika Anda sudah membaca komik-komik Street Fighter, Anda tahu Guile pasti bisa jauh lebih baik dari hanya melakukan tendangan sabit (sonic boom) yang nyatanya lebih terlihat seperti akrobat sirkus.
Sekarang mari kita cermati Dragonball Evolution yang menceritakan perjalanan Goku dari kecil hingga masa dewasanya. Dengan postur tubuh besar, berotot, dan berambut seperti pisang, bagaimana mencari karakter yang serupa dengan Son Goku dalam dunia nyata? Kehadiran Justin Chatwin pun sama buruknya dengan JCVD yang memerankan Guile dalam Street Fighter, beserta beberapa penambahan karakter pembantu yang biasanya dipaksakan. Meskipun Dragonball Evolution didanai dengan biaya yang besar oleh Stephen Chow, dikerjakan oleh tim animasi penggarap The Matrix Trilogy, dan ditangani oleh 20th Century Fox, hal ini sepertinya belum cukup untuk menggegerkan film ini dengan detail-detail yang relevan dengan komiknya. Bagaimanapun juga, saya masih penasaran apa jadinya jika Dragonball Evolution ini ditangani oleh Michael Bay dan Steven Spielberg.
Di sinilah letak polemik, film-film seperti Street Fighter atau Dragonball Evolution mungkin lebih baik hidup dalam dunia animasi saja. Saat ini teknologi perfilman jauh lebih berkembang jika dibandingkan pada 1994, tapi janganlah mengubah kisah para pahlawan super fiksi ini menjadi film layar lebar dengan pemeran baru yang tidak representatif dan masuk akal. Lalu bagaimana Anda akan menyikap Dragonball Evolution nanti? Jika Anda penggemar berat Dragonball dan menganggapnya sebagai bagian dari masa kecil Anda yang berharga, mungkin Anda akan kecewa melihat film ini (yang mana sudah terbaca dari trailernya). Namun jika Anda memang seorang moviegoer sejati, tontonlah film ini sebagai hiburan semata dan gantunglah harapan Anda pada penggarapan animasinya.
Berkaca pada film adaptasi video-game produksi Universal Pictures pada 1994, Street Fighter, setinggi apakah seharusnya ekspektasi para moviegoers Indonesia terhadap film Dragonball Evolution yang bakal rilis April 2009 nanti? Kembali pada 1991, saya ingat sekali bagaimana saya menyukai video-game keluaran Capcom itu dengan karakter-karakter fenomenalnya seperti Ken, Ryu, dan Guile. Kesuksesan Capcom dengan Street Fighter waktu itu langsung diikuti dengan produksi komiknya yang laris manis di pasaran. Munculnya Street Fighter seperti menjadi momentum bersejarah bagi komik ataupun video-game asal Jepang yang “menginvasi” anak-anak dan remaja di Indonesia waktu itu. Meskipun Dragonball lebih dulu hadir dalam kancah perkomikan, Street Fighter lebih dulu terkenal di Indonesia.
bumbu terpenting dalam kisah-kisahnya. Adalah dua kata; fiksi dan hiperbolis yang dimaksudkan di sini. Bola sinar (yang diucapkan “Hadoken” atau “kamehameha”) menjadi kekuatan super yang terkenal di kedua komik ini, dan pastinya menjadi tolak ukur kehebatan sang jagoan. Ketika film Street Fighter yang dibintangi oleh Jean Claude Van Damme sebagai William F. Guile muncul dengan trailernya di televisi, terus terang, saya merasa senang sekaligus ragu-ragu. Pasalnya, saya yakin sekali waktu itu (bahkan sampai sekarang) untuk membuat film berbasis cerita jagoan-jagoan yang memiliki kekuatan super dibutuhkan teknologi animasi paska produksi yang canggih dan proses casting yang sangat melelahkan. Street Fighter memang mengecewakan waktu itu, walaupun menghibur. Plot cerita yang diubah, proses casting yang sangat tidak relevan, dan teknologi perfilman yang ala kadarnya pada saat itu. Jika Anda sudah membaca komik-komik Street Fighter, Anda tahu Guile pasti bisa jauh lebih baik dari hanya melakukan tendangan sabit (sonic boom) yang nyatanya lebih terlihat seperti akrobat sirkus.
Sekarang mari kita cermati Dragonball Evolution yang menceritakan perjalanan Goku dari kecil hingga masa dewasanya. Dengan postur tubuh besar, berotot, dan berambut seperti pisang, bagaimana mencari karakter yang serupa dengan Son Goku dalam dunia nyata? Kehadiran Justin Chatwin pun sama buruknya dengan JCVD yang memerankan Guile dalam Street Fighter, beserta beberapa penambahan karakter pembantu yang biasanya dipaksakan. Meskipun Dragonball Evolution didanai dengan biaya yang besar oleh Stephen Chow, dikerjakan oleh tim animasi penggarap The Matrix Trilogy, dan ditangani oleh 20th Century Fox, hal ini sepertinya belum cukup untuk menggegerkan film ini dengan detail-detail yang relevan dengan komiknya. Bagaimanapun juga, saya masih penasaran apa jadinya jika Dragonball Evolution ini ditangani oleh Michael Bay dan Steven Spielberg.
Di sinilah letak polemik, film-film seperti Street Fighter atau Dragonball Evolution mungkin lebih baik hidup dalam dunia animasi saja. Saat ini teknologi perfilman jauh lebih berkembang jika dibandingkan pada 1994, tapi janganlah mengubah kisah para pahlawan super fiksi ini menjadi film layar lebar dengan pemeran baru yang tidak representatif dan masuk akal. Lalu bagaimana Anda akan menyikap Dragonball Evolution nanti? Jika Anda penggemar berat Dragonball dan menganggapnya sebagai bagian dari masa kecil Anda yang berharga, mungkin Anda akan kecewa melihat film ini (yang mana sudah terbaca dari trailernya). Namun jika Anda memang seorang moviegoer sejati, tontonlah film ini sebagai hiburan semata dan gantunglah harapan Anda pada penggarapan animasinya.
Diterbitkan di: Juni 04, 2009

Komentar

Showing 2 out of 2   Tambahkan komentar Anda
  1. 0 Tinjauan 12 Juni 2009
    1

    hepcore

    bener banget

    WAktu tau kalo filem Dragon Ball akan ada versi layar perak-nya..bweh seneng banget..langsung kejar tiket..tapi ternyata sangat mengecewakan..trik2x efeknya memang belom perah terjadi di filem2x Indonesia [karena mungkin belom menguasai triknya] tapi culun banget..ceritanya juga sangat2x gak berbobot..aduh payah deh..gak di rekomendasikan banget untuk lihat filem ini kalo ga mau rugi, kecuali kalo emang iseng2x aja kenapa enggak..atau gak mau pusing mikir gimana jalan ceritanya, karena emang gak ada ceritanya..cuma efek yang keren aja..juga di heboh-hebohin aja..

  2. 0 Tinjauan 14 Juni 2009
    2

    Setiyo

    bener banget

    suwun ya hep utk commentnya...karena emang yg terjadi di film adalah suatu karya yang (menurut saya) adalah suatu pelecehan atas karya besar Akira Toriyama sang master. Semoga ada produser & sutradara lain yang tergerak untuk membuat film DB yang sebenarnya (mengacu pada komiknya)agar qta semua (trmasuk ponakan yg masih muda2) bs menikmati kembali kedahsyatan jurus KAMEHAMEHAnya kamesennin & songoku serta SINAR IBLISnya piccolo & juga gimana mupengnya kamesennin pada bulma & ceweq2 lainnya (termasuk rachi)..hehehe jd kangen pengen nyetel film animenya lagi....udah yaa..sekali lagi suwuuun..sa

Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5
Tambahkan komentar Anda

Bookmark & share this post

.