Menyaksikan kiprah para capres-cawapres belakangan ini
terkadang terasa membingungkan, atau bahkan
memusingkan. Tapi lain halnya
dengan menyaksikan ‘
Capres’ yang satu ini, dijamin anti pusing, sebaliknya
justru membuat anda tertawa terbahak-bahak.
Ya, Capres yang satu ini memang kependekan Calo Presiden,
sebuah film besutan sutradara Toto Hoed. Mengambil genre parodi politik, film
ini melibatkan sederet bintang ternama, diantaranya Dwi Sasono, Happy Salma,
Catherine Wilson, Sujiwo Tejo, Butet Kertaradjasa, Kelik Pelipur Lara (Ucup
Kelik), Denny Chandra, hingga seniman Remy Silado.
Tak hanya itu. Sejumlah selebritis politik juga ikut
memperkuat film ini melalui talkshow komedi Republik Mimpi yang
diakomodir sebagai satu kesatuan dalam film ini. Tampil sebagai bintang tamu
diantaranya Gus Dur, Hidayat Nur Wahid, Andi Malarangeng, Sys NS, Angelina
Sondakh, Ruhut Sitompul, Jusuf Kalla, Effendi Gazali dan Yusril Izha
Mahendra.
Sampai disini saja film ini sudah
memiliki daya tarik tersendiri. Bahkan dikabarkan bahwa MURI akan memberikan
penghargaan sebagai film parodi politik pertama serta melibatkan cameo para
tokoh politik ternama.
Dari sisi cerita, film
yang biaya produksinya lebih mahal dibandingkan Laskar Pelangi ini juga tak
kalah serunya. Menggunakan setting tahun 2013, kisahnya bermula ketika seorang
capres yang juga ketua umum partai ditangkap oleh KPK karena kasus korupsi. Hal ini tentu saja menimbulkan kebingungan
para petinggi partai. Akhirnya diputuskan untuk mencari seseorang yang bisa
dijadikan boneka untuk memerankan peranan sang capres. Syaratnya, sang boneka
itu harus orang yang lugu dan penurut. Soal lain-lain seperti pendidikan, gelas
dan sebagainya bisa disulap.
Pilihan akhirnya jatuh
pada sosok Hartono (Dwi Sasono), seorang office boy yang lugu dengan
gelar sarjana ekonomi. Para petinggi parpol berkeyakinan bahwa Hartono bisa
distir dalam menjalankan kebijakan partai. Tujuannya, agar dana modal kampanye yang
terkumpul dari para pejabat dan pengusaha bisa dipertahankan, meski ketua umum
aslin telah dibui KPK.
Hartono pun mengiyakan
setelah mendengar gajinya yang lumayan besar untuk ukurannya saat itu, Rp 2,5
juta. Apalagi tuganys cukup gampang. Hanya menemui tamu, mengangguk-angguk,
mengatakan iya atau tidak sesuai perintah, serta menandatangani berkas-berkas
juga sesuai perintah.
Selanjutnya, Hartono
yang ndeso itu disulap menjadi perlente. Dari orang rendahan menjadi eksekutif,
dan dari yang semula jujur menjadi penipu. Berbagai pertemuan pun harus
diiikutinya, mulai dari pertemuan dengan pengusaha dan pemimpin Cina, Arab, Rusia,
hingga tokoh seperti Osama bin Laden dan Obama.
Masalah mulai muncul
ketika perasaan dan kata hatinya tersadar. Apalagi setelah dia kerap melihat secara terang-terangan kejahatan
yang dilakukan teman-temannya di partai. Karena perasaan bimbang dan risau semakin
kuat akhirnya Hartono harus memutuskan sesuatu yang baik untuk bangsanya.
Disinilah, Hartono mulai tampil sebagai dirinya sendiri yang idealis.
Sebagai sebuah parodi,
film ini cukup mengena. Timingnya juga sangat pas dengan suhu politik nasional
yang sedang dimarakkan persaingan antar para capres-cawapres. Dan yang pasti
penggarapan unsur komedinya juga cukup baik. Tidak ada kesan kaku atau
pemaksaan diri. Mungkin karena kemampuan pemainnya memang sudah tidak diragukan
lagi. Sebut saja misalnya Sujiwo Tedjo yang terkenal dengan karakternya, Butet
dan sejumlah nama lainnya.
Yang pasti, film ini
memberi warna baru di tengah maraknya perfilman nasional. (*)