Film yang diangkat berdasarkan true story ini mengisahkan mengenai seorang pelatih
futbol Amerika yang menerima pemuda
idiot
apa adanya. "Radio" bukanlah nama si pemuda atau si pelatih tersebut. "Radio" adalah satu kata yang untuk pertama kalinya diucapkan pemuda
idiot itu kepada Jones, pelatih
futbol di SMU Hannah, Amerika. Ketika sebagian siswa SMU Hannah menganggap rendah "Radio", Jones tetap memandangnya seperti orang normal.
Apakah mudah bagi sang pelatih untuk menerima kehadiran "Radio" apa adanya? Sangat tidak mudah! Ada tantangan, ada hambatan. Dikisahkan di sana bahwa ia sempat mendapatkan tekanan dari orangtua, siswa, dan termasuk anggota yayasan/dewan sekolahnya. Tapi visi Jones tetap jelas, yaitu menerima "Radio" apa adanya. Belajar mengasihi orang bukan karena apa yang dia lakukan, tetapi karena siapa dia-nya; bukan karena fungsinya, tetapi karena pribadinya.
"Radio" akhirnya lulus dari SMU. Tapi siapa yang menyangka bila 26 tahun kemudian "Radio" menjadi pelatih futbol yang paling dicintai di SMU Hannah. Jones benar ketika ia sempat berkata di depan para orangtua murid demi memperjuangkan keberadaan "Radio" di sekolah: "Dia tidak belajar dari kita, tetapi kita belajar dari dia." Bagi Jones, "Radio" adalah seorang pemuda yang sama dengan pemuda-pemuda lainnya, butuh dikasihi dan diterima apa adanya. Apa yang ditabur Jones akhirnya dituai pula. Jones boleh berbesar hati ketika ia melihat "Radio", yang nama aslinya adalah James Robert Kennedy, menjadi pelatih futbol di SMU Hannah.