Queen Bee. Sebuah sandi operasi khusus pengawalan Quenyta
Siregar (Tika Putri), sang putri kesayangan
capres Rachmat Siregar (Mathias
Muchus).
Film ini memang mengangkat cerita yang tak lazim dialami
seorang remaja putri pada umumnya. Diceritakan bahwa Quenyta merupakan remaja
dari kelompok masyarakat papan atas yang haus akan kasih sayang. Ibunya telah
meninggal ketika usianya masih lima
tahun. Sementara ayahnya, meskipun tinggal serumah, tetapi selalu sibuk dengan
aktivitasnya sebagai seorang politisi ternama. Praktis gadis cantik itu nyaris
tak pernah menikmati kebersamaan dengan ayahnya.
Alkisah, Quenyta hendak merayakan ulang tahun ke-17. Usia
yang punya arti penting bagi remaja masa
kini. So, wajar kalau Quenyta menuntut ayahnya menyisihkan waktu untuk pesta
sweet seventeen-nya. Rachmat Siregar pun sejak jauh hari telah menyanggupinya.
Tapi sayang ternyata rencana tak berjalan mulus. Tepat pada
hari ultah itu ternyata Rachmat Siregar berhasil masuk ke putaran kedua
Pilpres. Artinya, kesibukan sang capres menjadi semakin padat. Janji untuk menemani ultah istimewa sang putri
pun tak bisa dipenuhi.
Bisa dibayangkan
betapa kecewanya perasaan Quenyta. Sebagai remaja yang berjiwa pemberontak, ia
tak mau tahu apapun alasan ayahnya. Emosinya mengatakan bahwa ayahnya tidak
sayang lagi terhadap dirinya.
Di tengah rasa kesal terhadap
sang ayah ternyata Quenyta harus menghadapi kenyataan baru. Kebebasan yang
selama ini dijalaninya mendadak terampas.
Tim secret service yang diperankan Oka Antara memberinya
pengawalan ketat. Kemanapun dia pergi harus didampingi sang pengawal.
Keterkekangan ini membuat Quenyta semakin kesal. Ia bahkan
semakin tidak percaya dengan ayahnya. Konflik demi konflik dibangun dengan cukp
kreatif oleh sang penulis scenario Ginarti S Noer sehingga membuat cerita lebih
hidup. Berulangkali Quenyta berulah cukup heboh dan berusaha melarikan diri
dari sang pengawal. Namun hal ini justru membuat pengawalan semakin ketat.
Di tengah memuncaknya konflik ayah dengan anak ini akhirnya
dilakukan gencatan senjata. Mendekati masa kampanye Pilpres, keduanya
bernegosiasi dan menghasilkan kesepakatan, bahwa sang ayah harus menyediakan
waktu untuk putrinya. Sementara Quenyta juga harus bersedia mendukung dan
mengikuti kegiatan kampanye ayahandanya.
Kerjasama ayah-anak ini ternyata membuahkan hasil yang
signifikan bagi perjuangan dalam Pilpres. Sebagai anak muda yang kreatif,
Quenyta banyak menyumbangkan pemikiran-pemikiran brilian. Materi-materi
kampanye yang dinilai tidak cocok langsung diganti oleh Quenyta. Hasilnya
ternyata sangat berarti dalam mendulang dukungan suara bagi capres Rachmat
Siregar.
Di tengah kemesraan hubungan keluarga ini kemudian muncul
masalah baru. Pada detik-detik terakhir menjelang pencoblosan, Quenyta
melakukan kesalahan fatal. Media massa
memblow up kasus ini sehingga sempat mempengaruhi reputasi ayahnya. Konflik ini
sengaja dimunculkan mendekati akhir cerita untuk memberikan shock effect bagi
penonton. Namun, film ini tetap memelihara tradisi happy ending.
Dari unsur ceritanya,
Queen Bee kian memperkaya film drama remaja di tanah air. Tanpa harus mengumbar
sensualitas, namun film ini tetap enak ditonton. Meskipun alur ceritanya agak terkesan dipaksakan,
namun tertutupi oleh dramatisasi yang digarap dengan cukup manis.
Kontekstualitas temanya dengan musim Pilpres saat ini juga menghilangkan kesan pemaksaan
alur cerita.
Sementara dari sisi penggarapan juga tidak mengecewakan. Keterlibatan Hanung
Bramantyo sebagai supervisor nampaknya cukup mampu menularkan kesuksesan
film-film Hanung sebelumnya. (*)