Film yang satu ini
rasanya sangat pas diputar di saat suhu politik tanah air sedang memanas.
Apalagi dengan mencuatnya kasus pembunuhan Nasruddin Zulkarnain yang melibatkan
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar, yang notabene sarat
dengan nuansa konspirasi, film ini pas banget untuk ditonton.
Ya, film garapan
sutradara handal Kevin McDonald ini memang bertemakan politik dan konspirasi. Ceritanya
bagus, diangkat dari miniseri BBC karya Paul Abbot yang tayang pada tahun 2003.
Penggarapannya juga patut diacungi jempol. Ditambah lagi dengan deretan aktor
papan atas Hollywood seperti Russel Crowe, Ben Affleck, Helen Mirren, Rachel
McAdams, sehingga menambah film ini kian sempurna.
Film ini dimulai dari
latar belakang cerita yang nampak sederhana, yakni tewasnya seorang pencuri
kelas teri akibat penembakan di sebuah lorong. Pada saat bersamaan juga terjadi
kecelakaan mematikan yang menimpa Sonia (Maria Baker), seorang asisten anggota
kongres bernama Stephen Collins (Ben Affleck). Wanita itu meninggal lantaran
jatuh di rel kereta api sehingga terlindas sampai mati.
Publik menganggap
kematian dua manusia itu sebagai peristiwa biasa yang tidak ada kaitannya.
Bagaimana mungkin kematian seorang gembel bisa terkait dengan meninggalnya orang
terhormat seperti Sonia. Tetapi lain halnya dengan penilaian Cal McAffrey
(Russel Crowe). Dasar seorang wartawan, otaknya sudah terbiasa menganalisa dan
mengait-ngaitkan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Dia menangkap adanya
kaitan diantara kedua kematian tersebut yang mengarah pada sebuah konspirasi.
Kesimpulan ini tentu
bukan tanpa alasan. Kebetulan wartawan harian Grizzled Washington Globe itu
merupakan teman lama Stephen Collin, sang anggota kongres yang dikenal sangat
ambisius. Mereka berdua bahkan sempat tinggal sekamar ketika masih
sekolah. Persahabatan ini dilanjutkan dengan menjadi manajer kampanye saat
Collins berjuang untuk menjadi anggota kongres. So, bisa dipastikan bagaimana
dekatnya kedua orang ini.
Cal
pun memutuskan untuk melakukan investigasi. Dia menduga kematian Sonia
berkaitan dengan aktivitas yang dilakukannya selama bekerja dengan Collins,
yakni investigasi terhadap sebuah kontrak proyek militer oleh sebuah perusahaan
swasta.
Pucuk dicinta ulam tiba. Dalam investigasinya, Cal mendapat bantuan
seorang blogger muda dan ambisius bernama Della Frye (Rachel McAdams). Berbagai
fakta berhasil dikumpulkan, namun hasilnya mementahkan kesimpulan tentang
adanya konspirasi.
Cal
tak mau menyerah. Dia melanjutkan investigasi. Pelahan namun pasti, mereka
akhirnya menemukan bukti-bukti yang mengarah pada konspirasi yang membahayakan.
Saat inilah sang penulis Matthew Michael Carnahan memainkan ceritanya. Konflik dimainkan sedemikian rupa dengan
memunculkan terror dan ancaman pembunuhan. Drama cerita dibuat begitu
menegangkan.
Tarik menarik
kepentingan dibangun dengan sangat menarik. Misalnya saja dengan adanya tokoh
istri Collins (Robin Wright Penn) sebagai pimpinan Cal di media tempatnya
bekerja. Peran ini mampu membangun konflik batin yang luar biasa bagi
perjuangan Cal dalam mengungkap kasusnya. Penuh intrik dan aksi-aksi berbahaya.
Poin utama dari cerita
film ini adalah untuk menunjukkan terjadinya pergeseran fungsi dan peran
wartawan, polisi dan pemerintah yang sedemikian hebatnya. Meskipun yang
diangkat adalah aktivitas wartawan, tapi yang diangkat sama sekali bukanlah
kegiatan rutin dalam menulis dan mengejar deadline, tetapi yang disuguhkan
justru aktivitas seputar otopsi, pengungkapan bukti-bukti dan aksi heroik
lainnya. Bahkan seorang blogger sekalipun mampu mempengaruhi opini publik. Hebatnya,
sang penulis cerita mampu menyajikannya dengan apik.
Diluar cerita yang
disuguhkan, penggarapan film ini memang sangat matang. Tak hanya kulitas
pemerannya yang mumpuni, tetapi penyutradaraannya juga hebat. Banyak kritikus
papan atas yang memuji film ini. So, rasanya rugi kalau Anda melewatkan film
ini. (*)