SATU lagi film layer lebar karya debutan baru. Charles
Gozali
memang bukan nama baru dalam dunia hiburan. Dia pernah menghasilkan
sebuah sinetron Elang. Tetapi di layar lebar, Rasa adalah film perdananya.
Film yang mengusung sejumlah bintang papan atas ini kental sekali
dengan nuansa drama misteri ala Barat. Alur cerita yang dibangun juga mirip
banget dengan yang sering kita saksikan dalam film-film Barat. Bahkan
pemerannya pun diwarnai dengan kehadiran bule asli. Bedanya, secara teknis
penggarapan film ini masih mentah.
Kisah misteri ini
dibangun melalui tokoh Rianti (Pevita Pearce), seorang gadis introvert dan
cenderung aneh. Kesan aneh ini terjadi lantaran kemampuannya untuk menerawang
masa depan melalui mimpi. Ia kerap terlihat gelisah dan ketakutan setiapkali habis
mimpi. Untuk melampiaskan, Rianti gemar melukis apa yang dilihat dalam mimpi.
Karya lukis Rianti
yang unik menarik perhatian seorang kurator, Wisnu (Christian Sugiono). Tetapi
kehadiran Wisnu tak disambut baik oleh Rianti. Ia masih berusaha menutup diri
dari orang lain. Ia baru mulai membuka diri ketika dipertemukan dengan pasangan
Laras (Wulan Guritno) dan Anthony (Steve Benitez). Latarbelakang Anthony yang
merupakan profesor arkeologi ini kiranya membuat Rianti lebih terbuka.
Pasangan ini datang
untuk meminta bantuan Rianti guna mencari anaknya, Mariah, yang hilang. Ilmu othak-athik gathuk ala mistik pun
dimainkan dengan menghadirkan legenda keris keramat bernama Chandra Wulan. Dikisahkan bahwa
penculikan Mariah terkait erat dengan keris sakti tersebut. Kaitan ini teruangkap
pada akhir cerita yang melibatkan sebuah konspirasi diantara teman-teman Mariah
sendiri.
Sebagai karya debutan
bisa dimaklumi kalau film ini banyak memiliki kelemahan. Ironisnya, kelemahan
ini justru kian nampak dengan penampilan dialog-dialog berbahasa Inggris yang
cenderung kaku. Terkesan mereka lebih sibuk mengingat dialog berbahasa Inggris
itu ketimbang penghayatan ceritanya.
Meski demikian, sang sutradara
berusaha menutupi kelemahan-kelemahan itu dengan menghadirkan dramatisasi.
Sejumlah scene dan adegan yang menggambarkan ketegangan serta aksi laga yang
menyentakkan diselipkan disana-sini. Memang tak nampak kesan dipaksakan, tetapi
tak mampu mengurangi kelemahan secara keseluruhan.
Apapun itu, kehadiran
‘Rasa’ patut diapresiasi sebagai bentuk partisipasi meramaikan kebangkitan
perfilman di tanah air. (*)