Siapa
yang tak kenal Ratna Sarumpaet.
Gayanya yang meledak-ledak, publik sangat mudah
mengenali ‘Ratu Teater’ ini. Langkahnya yang panjang dalam dunia pergerakan,
khususnya dalam perjuangan kaum wanita, mengantarkannya ke dalam ruang yang
lebih luas. Dan yang pasti, kemampuannya berlakon di panggung memaksa penonton
untuk mengakui kehebatannya.
Singkatnya,
eksistensi wanita ini tak perlu diragukan lagi. Tetapi, bagaina bila dia
memasuki dunia film, apakah juga mampu menunjukkan kehebatannya? Apakah dia
mampu mengekuti jejak tokoh-tokoh besar teater yang sukses di layar film
lainnya? Silakan buktikan sendiri melalui film garapannya ‘Jamila dan Sang
Presiden.’
Bila
melihat ‘cover’-nya, publik pasti akan berkata wah. Bertabur bintang besar
tanah air. Mulai dari Christine Hakim, Adjie Pangestu, Surya Saputra, Atiqah
Hasiholan, Fauzi Baadilah dan sebagainya. Deretan bintang dengan kemampuan
akting yang telah teruji prestasinya, yang tentu saja diharapkan mampu
mengangkat film produksi Satu Mera Panggung dan MVP Pictures.
Film
yang diangkat dari naskah drama ini mengangkat pesan utama tentang perdagangan
manusia yang sudah sekian lama terjadi di tengah kehidupan masyarakat.
Ceritanya dimulai ketika Jamila (Atiqah Hasiholan) mengaku telah membunuh seorang
menteri, Nurdin (Adjie Pangestu), sehingga ditangkap dan ditahan.
Seorang
sipir wanita bernama Ria (Christine Hakim) tertarik untuk mendalami siapa
sebenarnya Jamila. Ketika menemukan buku harian Jamila, dia tak
menyia-nyiakannya. Dari situ dia mengetahui sosok Jamila. Salah satu bagian
buku harian yang menyentuh Ria adalah cerita tentang nasib yang diderita
Jamila. Sejak kecil rupanya wanita ini telah menjadi korban kejahatan ayahnya
sendiri yang memperdagangkannya.
Derita
demi derita diungkapkannya: dijual, diperkosa, menjadi pelacur kompleks
pelacuran, hingga menjadi wanita simpanan sang Menteri Nurdin. Begitu pun
dengan perjuangannya dalam menyelamatkan adiknya dari kebejatan ayahnya juga
diungkap.
Cerita
nestapa ini membuat Ria yang digambarkan galak ini cenderung melunak. Apalagi
pejabat penjara (Surya Saputra) juga cenderung memberi perlakuan istimewa
kepada Jamila. Melihat ini, segerombolan napi wanita menumpahkan amarahnya
kepada Jamila.
Untuk
lebih mendramatisasi cerita juga dimunculkan tokoh pengusaha Ibrahim Dwi Sasono
yang jatuh hati pada Jamila. Sedangkan untuk mendukung pesan utama film,
dilahirkan tokoh demonstran (Fauzi Baadila).
Singkatnya,
dari sisi tema cerita sebenarnya cukup menarik. Hanya saja kurang terfokus. Terlalu banyak plot yang mendapat porsi
besar, sehingga pesan utama yang ingin disampaikan menjadi kabur, tertutup oleh
banyaknya pesan pinggiran yang semestinya hanya untuk menghidupkan cerita.
Sementara dari kualitas pemain jelas tak perlu diragukan. Kuatnya karakter
Christine Hakim dalam memainkan peran sudah jaminan 100 persen. Pun dengan
bintang-bintang lainnya seperti Adjie, Surya, san lainnya. Tetapi justru karena
kuatnya peran mereka sehingga kian memperlemah pesan utama yang hendak dicapai.
Dramatisasi yang berlebihan pada plot-plot pendukung membuat penonton lupa akan
tema utamanya, yakni cerita pilu yang dialami oleh Jamila.
Barangkali, kejadian semacam ini tidak akan menjadi masalah ketika
ditampilkan diatas panggung teater. Tapi, film bukanlah teater yang memang
selalu disuguhkan dalam bahasa yang meledak-ledak.
Apapun itu, film
ini masih cukup enak ditonton. Kuatnya
pemeran serta dramatisasi yang disuguhkan setidaknya bisa menjadi hiburan
tersendiri. Silakan saja buktikan sendiri. (*)