• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Film>Slumdog Millionaire: mimpi India yang dikemas secara berbeda

.

Slumdog Millionaire: mimpi India yang dikemas secara berbeda

oleh : benwal    


Slumdog Millionaire
berhasil meraih 8 piala di ajang penghargaan Oscar ke-81
pada Februari
2009 lalu. Kemampuan sutradara asal Inggris Danny Boyle mengemas sebuah
tema cerita sederhana menjadi sebuah film dramatis yang sinis, namun
juga komedi dan berakhir romantis, memang layak mendapat ganjaran
award tersebut.



Film
ini adalah adaptasi dari sebuah novel berjudul Q&A karya penulis
yang juga diplomat India Vikas Swarup. Boleh dibilang ide ceritanya
India banget, di mana sebagian besar rakyatnya yang hidup di bawah
garis kemiskinan itu selalu bermimpi untuk hidup ‘di atas’, yang
tercermin dari film-film mereka yang banyak menggambarkan kehidupan
mapan bin mewah.




Tersebutlah
seorang Jamal Malik (Dave Patel) yang bekerja sebagai “asisten operator
telepon” di sebuah perusahaan selular di Mumbai, yang tugas utamanya
ternyata adalah membuat dan mengantarkan teh bagi para operator,
istilah bahasa Indianya
chai-wallah, alias office boy (OB) kalo di Jakarta.



Jamal Malik yang yatim piatu ikut acara kuis Who Wants to Be a Millionaire?
dengan tujuan untuk mengejar cintanya dengan seorang gadis bernama
Latika (Freida Pinto), yang merupakan teman sepermainan di masa kecil.
Ia berhasil melampaui pertanyaan berhadiah 10 juta
rupee
karena ternyata jawaban dari setiap pertanyaan di kuis tersebut ada
pada kisah masa lalunya yang kelam bersama sang kakak, Salim (Madhur
Mittal), di daerah kumuh (
slumdog) terbesar di dunia di kota Mumbai India.



Ketika waktu jeda untuk menuju ke pertanyaan terakhir berhadiah 20 juta rupee,
Jamal dijebak oleh sang pembawa acara untuk ditangkap polisi karena
dianggap bermain curang akibat dari keberhasilannya menjawab setiap
pertanyaan di acara kuis tersebut. Inspektur polisi yang memeriksanya
akhirnya percaya akan kejujuran Jamal setelah ia curhat tentang masa
lalunya dan rasa cintanya terhadap Latika. Jamal diperbolehkan untuk
kembali mengikuti kuis tersebut dengan menjawab pertanyaan terakhir
yang justru kali ini ia tidak tahu jawabannya dan dijawab dengan
menebak, dan ternyata benar.




Ketegangan
demi ketegangan berhasil dibangun dengan baik oleh sang sutradara,
terutama ketika adegan kilas balik yang memotret lika-liku kehidupan
warga kelas bawah India. Para pemainnya juga di-casting dengan tepat,
terutama pemeran Jamal, Salim, dan Latika waktu kecil (Tanay Chheda,
Azhar Mohammed Ismail, Rubina Ali). Anak-anak yang aslinya memang
berasal dari wilayah kumuh di Mumbai tersebut mengingatkan pada film
Laskar Pelangi yang juga diperankan secara baik oleh aktor-aktor kecil
yang berasal dari daerah setempat.




Meski
di bagian akhir film mulai terasa ‘bau’ Indianya, yaitu ketika akhirnya
Jamal kembali menemukan Latika yang sudah hidup bersama seorang mafia
sadis kaya-raya yang juga merupakan boss dari Salim, kakaknya yang juga
baru ditemukannya setelah lama kehilangan kontak (mengingatkan kisah
Ikal dan A-Ling di novel Maryamah Karpov).
Beberapa adegan memang ada yang terasa janggal dan melompat begitu
saja, seperti ketika Jamal & Salim remaja menjadi pemandu turis
dadakan di Taj Mahal, tanpa kita tahu bagaimana ceritanya mereka
tiba-tiba sampai ada di sana.




Secara
keseluruhan film ini cukup menghibur sekaligus memperkaya pengetahuan
kita akan keadaan India yang sebenarnya. Untuk mempertegas ke-India-an
film ini, tak lupa Danny Boyle menyuguhkan tarian & nyanyian
'rame-rame' khas India yang biasanya ada di tengah film, diletakkan di
akhir film. Sebuah film India yang dikemas ala barat.
 
Diterbitkan di: Mei 09, 2009
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.