Memaknai “Prahara Tsunami Bertabur Bakau”
(Untuk Eman Hayon dan Michael Yosviranto, Pemenang EADC MetroTV 2008)
Oleh: Kamilus Seran*
Dengan Prahara Tsunami Bertabur Bakau, Eman Hayon (Mahasiswa STFK dan Anggota KMK Ledalero) dan Michael Yosviranto (Mahasiswa STFK Ledalero), sukses menyisihkan rival-rivalnya dalam ajang Eagle Award Documentary Competition MetroTV 2008 yang diselenggarakan di bawah tema Hijau Idonesiaku. Eman dan Anto berhasil mempresentasikan naskah proposal film mereka dan sukses masuk dalam nominasi lima finalis. Karena itu tim khusus dari MetroTV diterjunkan ke Magepanda-Maumere untuk melakukan shuting pada bulan Juli lalu. Sesudah film dokumenter Prahara Tsunami Bertabur Bakau (PTBB) dengan pemeran utamanya Baba Akong (Bpk. Viktor Emanuel Rayon) diputar di MetroTV, dan dilakukan polling SMS, dewan Juri memutuskan PTBB sebagai film terbaik dan favorit pemirsa. Spontan saja Eman dan Anto bersorak berpelukan, tertawa dan meloncat girang, ketika mendengar pengumumannya pada 25 Oktober 2008 di studio MetroTV Jakarta.
Dari Prahara Tsunami Bertabur Bakau, hemat saya ada dua hal yang bisa duraikan yakni optimisme perjuangan rakyat dan sebuah kritikan tajam.
Pertama, Optimisme Perjuangan Rakyat
Di tengah riuh-rendahnya tingkah laku manusia mengeksploitasi alam, baba Akong justeru berusaha melestarikan lingkungan hidup di pesisir pantai. Belajar dari pengalaman bencana mahadahsyat, tsunami tahun 1992, Baba Akong yang pernah bekerja sebagai nahkoda Kapal Barang Surabaya – Maumere ini, berhasil merintis hutan bakau di sepanjang pantai Ndete seluas 23 hektare. Ia sendiri mengusahakan pembibitan dan menanam bakau dengan semangat melindungi kehidupan. Ia yakin dengan menanam bakau, persoalan seperti abrasi bisa diatasi. Ia berusaha untuk menjaga kelestarian hutan bakau dengan cara terus menanam ratusan ribu anakan bakau pada lahan yang masih kosong. Dengan cara yang telah dirintisnya sejak tahun 1993 yang lalu, hutan bakau di Ndete pun kini berubah menjadi tempat berlindung ribuan burung yang terdiri dari berbagai jenis.
Baba Akong memang mempunyai pengalaman yang unik. Ketika memulai pekerjaan ini, orang-orang gunung yang tidak tahu-menahu soal bencana yang pernah ia alami, tak hentinya mencibir pekerjaannya. Suatu hari saat melihat baba Akong sedang bekerja, orang-orang gunung meragukan pekerjaannya yakni menanam anakan bakau di atas tanah berpasir. Lain kali, mereka justeru menganjurkan supaya baba Akong membuka lahan untuk membuat kebun saja, sebab pekerjaannya itu dipandang sebagai sesuatu yang sia-sia belaka.
Namun bersama keluarganya, ia tetap teguh berpegang pada prisipnya. “Secara alamiah bakau itu tumbuh di darat, bukan di dalam air. Karena itu kita bisa menanam di atas pasir. Yang paling penting adalah ketekunan dan kesediaan kita untuk merawatnya sehingga bisa berkembang baik. Pahon-pohon bakau yang ada di dalam air itu, awalnya di darat, tetapi abrasi menyebabkan pohon-pohon menjadi bagian dari air laut,” demikian baba Akong.
Menyimak pengalaman baba Akong, patut diakui, bahwa masyarakat seharusnya menjadi basis penanganan bencana. Pengalaman bencana seharusnya menjadi dasar membangun kembali alam yang kian terkikis oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab.
Syukurlah, Eman dan Anto melihat optimisme perjuangan masyarakat Ndete – Magepanda, khususnya keluarga Akong, dalam membela lingkungan hidup di pantai dan malahan mengangkat model perjuangan mereka ke kancah nasional.
Hemat saya, bertolak dari Film Dokumenter PTBB yang disutradarai oleh Eman dan Anto, pada satu sisi model perjuangan Baba Akong dan kelompoknya pantas dijadikan sebagai model perjuangan bagi masyarakat lokal lainnya yang sering mengalami becana alam seperti banjir, tanah longsor, abrasi dan kekeringan yang berujung pada gagal panen. Pada sisi lain pemerintah daerah patut memberi perhatian lebih bagi mereka yang sudah berinisiatif melestarikan alam dengan meberikan dukungan material dan penyuluhan-penyuluhan.
Kedua, Sebuah Kritikan Tajam
Dalam Film Dokumenter Prahara Tsunami Bertabur Bakau (durasi 15 menit), nampak begitu jelas suatu perjuangan tanpa pamrih dari seorang nelayan untuk menghijaukan wilayah pantai dengan menanam bakau. Baba Akong justeru menaruh perhatian lebih pada lingkungan. Cintanya pada alam ia bahasakan dengan usahanya melestarikan komunitas burung-burung yang bersuaka di hutan bakau yang telah dirintisnya. Karena alasan itu, setiap orang yang suka menyandang senapan angin dicegahnya, ketika mereka memasuki kawasan hutan bakau. Ia pun tak segan-segan menangkap dan melaporkan orang-orang yang merusak hutan bakau kepada pihak berwenang, termasuk mereka yang secara diam-diam mencuri pasir laut di kawasan Ndete. Ia juga menangkap para pelaku “bom ikan” dan penebang bakau. Namun ketegasan pilihan yang demikian justeru menuai rasa kecewa. Ceritanya, pihak yang berwenang menangani persoalan ini justeru “membebaskan” orang-orang itu tanpa “bekas”. Itulah pengalaman yang ia alami.
Toh demikian, sekali-kali pengalaman ini tidak melunturkan semangatnya dalam berjuang mengawasi lingkungan pantai. “Saya berprinsip lain, bahwa melindungi tanah sama saja dengan melindungi nyawa. Karena itu saya dan keluarga saya terus melakukan pembibitan dan penanaman. Apa pun tantangannnya,” tegas baba Akong.
Pengalaman tersebut pantas dilihat sebagai sebuah kritikan tajam terhadap masyarakat lokal yang tidak proaktif memelihara lingkungan hidup malahan merusak apa yang dirintis oleh sesamanya. Masyarakat kita lebih identik dengan masyarakat konsumtif dan cuma segelintir orang yang mulai meninggalkan gaya hidup konsumtif melulu menuju gaya hidup produktif, semisal perjuangan baba Akong dan kelompok rintisannya yang telah menghasilkan sekian luasnya hutan bakau (23 ha). Hal ini memberi efek yang sangat mendukung kehidupan dan usaha nelayan dan lebih dari itu melindungi masyarakat dari berbagai bencana.
*Kamilus Seran, mahasiswa STFK Ledalero-Maumere-NTT
(Tulisan ini dimuat di HU Pos Kupang 6 November 2008)