Peka Nurani di Film LASKAR PELANGI
Setelah menonton film LASKAR PELANGI (produksi tahun 2008 Garapan
Sutradara : Riri Reza, yang diilhami dari Novel "Laskar Pelangi" karya Andrea Hirata_anak Gantong-Belitong-Bangka) yang menceritakan tentang sepenggal kehidupan anak manusia beberapa tahun silam di era tahun 1970-an di kepulauan Bangka Belitung dimana meng-ilustrasikan secercah harapan dari komunitas anak bangsa di daeah Gantong-Belitong yang berusaha mendapatkan
pendidikkan, karena mereka merasa akan pentingnya essensi
pendidikkan untuk kehidupan mereka kelak dimasa depan. Ikal seoang anak buruh PT TIMAH yang memilih sekolah swasta di SD Muhammadiyah yang kondisinya tergolong miskin sebab bangunannya kurang layak apalagi dibilang nyaman, kondisinya hampir roboh, atapnyapun ada yang tembus pandang menuju langit luas karena dari seng yang sudah bolong dan belah akibat berkarat pasrah seadanya, bila hujan datang airpun membasahi lantai sekolah yang separuh tanah dan pasir, belum lagi kambing-kambing kadang ikut meramaikan suasana. Muridnyapun cuma ada 10 siswa itupun hampir ditutupnya sekolah itu oleh pemerintah kalau siswanya kurang dari 10 namun kalau tidak saja pendaftar terakhir yang bernama Harun nota bene anak tersebut agak keterbelakangan mental dibanding anak-anak seusianya, sehingga membersitkan Harapan untuk seorang guru Pak Harfan yang berjuang dengan hati nurani untuk menciptakan anak-anak
yang ber-ahlak mulia dengan selalu tangan di atas dari pada tangan dibawah, itulah idealismenya. Selain juga ada ibu Muslimah yang mempunyai idealisme sama dengan pak Harfan walaupun mereka mendapat tawaran untuk mengajar di sekolah lain yang notabene menjanjikan lebih baik, mereka berdualah yang selalu setia berjuang menemani Ikal dengan kesembilan siswa lainnya, diantaranya ada Lintang yang jago berhitung, Mahar yang pandai berkesenian. Jauh perhatian dari kehidupan sosial sekitarnya. Mungkin sebab jauh dan terpencil, walaupun di kecamatan itu ada sekolah yang lebih layak dari itu, milik PT TIMAH itu sendiri, namun itulah cermin kehidupan dimana ada basah disitu ada kering, dimana ada panas disitu ada hujan, dimana ada baik disitu ada buruk, selalu berpasangan, jika kita ingat akan fitrah. Tetapi kita salut akan ilustrasi film tersebut yang dapat menyentuh emosional kita yang menontonnya. Film itu sangat menarik dan betapa kita juga dapat membuka mata dimana masih banyak saudara-saudara kita yang ingin hidup layak dengan
pendidikkannya, ekonominya, dan lain-lain namun tidak dapat dijangkaunya. Pemerintahpun harus peka dengan film itu terutama menyangkut pasal 31 UUD '45 ; pasal 34 UUD '45; pasal 33 UUD '45, sehingga paling tidak harus ada
action plan untuk kedepannya. Dan kita sebagai anak bangsa apatah salahnya jika kita berempati, bersatu, berbagi, dan membangun negeri ini menggapai harapan dan cita-cita sebagaimana yang di amanatkan di UUD '45 dan kitab-kitab suci agama kita. Menjadi manusia Indonesia seutuhnya dan Manusia Indonesia seluruhnya. ***(Jay_Ksatrya)