Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Kedokteran & Kesehatan>Pediatri>Sering Buang Air Besar Di Celana

Sering Buang Air Besar Di Celana

oleh: LudiPNK     Pengarang: Yanti; Ahmad Suhendi; nakita
ª
 
Dibanding si kecil mengompol, buang air besar atau BAB di celana tentulah lebih merepotkan orang tua. Terlebih jika si kecil BAB-nya saat diajak bepergian atau dalam perjalanan. Kendati sudah dipakaikan diapers, tetap jadi persoalan. Itulah mengapa, tak sedikit orang tua yang mulai melatih anaknya ke toilet sedari bayi. Memang, diakui Dra. Mayke S. Tedjasaputra, toilet training untuk BAB sudah bisa diajarkan sejak si kecil usia 9 bulan, tepatnya ketika ia sudah bisa duduk sendiri. Soalnya, toilet training untuk BAB jauh lebih mudah dilakukan ketimbang BAK.
Jadi, kita bisa memulai pelatihan saat si kecil menunjukkan tanda-tanda ingin BAB, dengan menyediakan pot khusus untuk BAB agar ia merasa nyaman di situ. Ajak si kecil duduk di potnya sambil kita mengatakan, "Oh, Adek mau pup, ya? Yuk, duduk di pot!" Dengan begitu, si kecil jadi mengasosiasikan keinginannya untuk BAB dengan keharusan dari kita untuk duduk di pot tersebut. Ia akan menangkap, "Oh, kalau aku merasakan sakit perut seperti ini, berarti aku mau pup dan aku harus duduk di pot."
Namun kita harus konsisten, lo. Artinya, tiap kali si kecil memperlihatkan tanda-tanda yang sama, kita mengajaknya duduk di potnya. Tentu seiring dengan meningkatnya usia, pelatihan BAB dari di pot dipindah ke WC. Hingga akhirnya si kecil tahu bahwa kalau mau BAB harus di tempatnya, bukan di celana.
DIPAKSA BAB
Bukan berarti sudah terlambat, lo, kalau kita baru mengajarkan toilet training untuk BAB di usia batita. Juga, bukan berarti yang dilatih sejak bayi akan lebih cepat mampu mengendalikan kapan saatnya ia BAB.
Sayangnya, ujar Mayke, kecenderungan yang terjadi justru orang tua mengajarkannya dengan cara yang salah. Misal, anak belum saatnya mau BAB tapi tetap dipaksa, hingga ia harus nongkrong sekian lama di pot/WC. Atau, anak dimarahi karena tak juga mengeluarkan feses/kotorannya. "Terlebih setelah anak bangkit dari pot atau keluar dari WC, hanya beberapa saat kemudian ternyata fesesnya keluar di celana, biasanya orang tua langsung hilang sabar hingga dimarahilah si anak," tutur psikolog pada Lembaga Psikologi Terapan UI ini.
Padahal, pemaksaan maupun kemarahan orang tua hanya akan menimbulkan pembangkangan dari anak. Salah satunya, sering BAB di celana tapi feses yang keluar cuma sedikit. "Hal ini terjadi lantaran anak menahan sekaligus mengeluarkan." Atau, ia malah sengaja menahan BAB-nya.
Tentunya, dengan si kecil menahan BAB, bisa berakibat perutnya terasa penuh/kembung, hingga akhirnya ia jadi rewel. Dampak lain, senses atau kepekaannya jadi ikut terpengaruh. Artinya, ketika saat BAB benar-benar tiba, ia tak lagi peka merasakannya, hingga akhirnya malah kebablasan BAB di celana.
PERHATIKAN KONDISI ANAK
Jadi, tegas Mayke, kebiasaan batita yang suka menahan BAB ataupun yang mengeluarkannya sedikit demi sedikit, memang bergantung pada toilet training yang diberlakukan orang tua. Apalagi jika anak memang belum siap tapi orang tua terlalu menekankan toilet training yang berlebihan, tentu tak bisa diharapkan hasil yang positif.
Itu sebab, kita dituntut untuk mencermati mengapa si kecil suka menahan BAB, apakah lebih karena faktor fisiologis atau sebab lain? Bisa jadi, kan, si kecil kala itu pencernaannya sedang ada gangguan, hingga ia mengalami kesulitan BAB. Jadi, penyebabnya lebih karena faktor organis; ia mengalami konstipasi atau sembelit. Untuk mengatasinya tentu bukan dengan toilet training, tapi perhatikan makanan yang dikonsumsi si kecil. Namun bila keseimbangan zat makanan sudah terpenuhi, ternyata si kecil tetap mengalami gangguan, kita perlu introspeksi diri.
"Orang tua yang peka terhadap kondisi anak tentu tak akan pernah memaksakan kehendak. Sebaliknya, bila tetap memaksakan kehendak semata-mata demi tegaknya peraturan atau kedisiplinan, besar kemungkinan akan berbuntut dengan timbulnya sikap negativistik dalam diri anak," tutur pengajar di Fakultas Psikologi UI ini.
Sementara seringnya anak BAB tapi sedikit-sedikit, selain merupakan bentuk pembangkangan terhadap orang tua akibat toilet training yang salah, juga bisa lantaran ia berharap orang tuanya mau memperhatikan dirinya. Nah, bila si kecil menjadikan kebiasaan jelek ini semata-mata untuk menarik perhatian, saran Mayke, orang tua sangat diharapkan tak menunjukkan sikap panik/heboh atau lebih meledak marah.

Diterbitkan di: 31 Maret, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    sy punya anak umur 9 th, sll berak di celana , padahal sdh dimarahi , apa krn dia gemuk ? berat bbadan 50 kg, makan 3-4 kali sehr, apa ada kelainan di usus nya? maksih Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.