Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Kedokteran & Kesehatan>Pediatri>Peritonitis generalisata ec perorasi appendiks

Peritonitis generalisata ec perorasi appendiks

oleh: bravehearth     Pengarang : Rusdina B.L
ª
 
Peritonitis adalah suatu proses inflamasi yang bersifat lokal atau menyeluruh (generalisata) pada peritoneum ( membrane serosa yang melapisi rongga abdomen dan menutupi visera abdomen) yang terjadi akibat penyebaran infeksi dari perforasi saluran cerna. Peritonitis generalisata disebut juga sebagai diffuse peritonitis yang merupakan radang pada pars generalisata peritoneum. Peritonitis bisa disebabkan oleh masuknya bakteri dalam rongga peritoneum pada saluran makanan yang mengalami perforasi. Penyebab terseringnya dari peritonitis adalah apendisitis. Appendisitis merupakan peradangan pada appendiks vermiformis. Bila telah mengalami kebocoran (perforasi) dan menyebabkan meluasnya proses peradangan di luar appendiks, disebut sebagai appendisitis perforasi.
Apendisitis adalah peradangan pada apendiks vermiformis. Apendisitis merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering terjadi. Penyakit ini dapat mengenai semua umur baik laki-laki maupun perempuan namun paling sering kita temukan pada laki-laki berusia 10-30 tahun. Apendisitis biasanya disebabkan penyumbatan lumen apendiks oleh hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, atau neoplasma. Obstruksi lumen apendiks menyebabkan bendungan mukus yang diproduksi mukosa. Lama kelamaan, bendungan mukus semakin bertambah banyak dan elastisitas dinding apendiks semakin berkurang sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen. Tekanan tersebut akan menghambat aliran cairan limfe sehingga terjadilah edema, diapedesis bakteri dan ulserasi mukosa. Keadaan ini disebut apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium. Bila sekresi mukus terus berlangsung, tekanan intralumen apendiks semakin meningkat. Akibatnya terjadi obstruksi vena, edema semakin bertambah dan bakteri akan menembus dinding appendiks. Peradangan akan meluas hingga mengenai peritoneum setempat sehingga timbul rasa nyeri di daerah kanan bawah. Keadaan ini disebut apendisitis supuratif akut. Bila aliran arteri terganggu, akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti oleh terbentuknya ganggren. Keadaan ini disebut apendisitis gangrenosa. Bila dinding apendiks yang rapuh tersebut pecah, terjadi apendisitis perforasi.
Bila proses diatas berlangsung lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan tertarik ke arah appendiks sehingga timbul massa lokal yang disebut infiltrat apendikularis. Peradangan apendiks tersebut dapat berubah menjadi abses atau menghilang. Anak-anak mudah mengalami perforasi apendiks karena memiliki omentum pendek, apendiks panjang, dan dinding apendiks tipis. Juga memiliki pertahanan tubuh yang masih rendah.
Prinsip umum terapi peritonitis adalah penggantian cairan dan elektrolit secara intravena, pemberian antibiotika yang sesuai, dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal, pembuangan fokus septik (pada kasus ini adalah apendiks vermiformis) atau penyebab radang lainnya dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. Resusitasi dengan larutan saline isotonik sangat penting. Pengembalian volume intravaskular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen, nutrisi, dan mekanisme pertahanan. Efektivitas resusitasi dapat dinilai dengan memantau produksi urine, tekanan vena sentral dan tekanan darah. Terapi antibiotika harus segera diberikan setelah diagnosis peritonitis bakterial dibuat. Antibiotik berspektrum luas diberikan secara empirik, dan kemudian diubah jenisnya setelah hasil kultur keluar. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicurigai menjadi penyebab. Antibiotika berspektrum luas juga merupakan tambahan drainase bedah. Harus tersedia dosis yang cukup pada saat pembedahan, karena bakteremia akan berkembang selama operasi. Keputusan untuk melakukan tindakan bedah harus segera diambil karena setiap keterlambatan akan menimbulkan penyakit yang berakibat meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Ketepatan diagnosis dan penanggulangannya tergantung dari kemampuan melakukan analisis pada data anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjangTerapi bedah dengan laparotomi ditujukan untuk membuang fokus septik atau penyebab radang lain. Insisi yang dipilih adalah insisi vertikal digaris tengah yang menghasilkan jalan masuk ke seluruh abdomen dan mudah dibuka serta ditutup. Jika peritonitis terlokalisasi, insisi ditujukan diatas tempat inflamasi. Lokasi dan sifat patologis dari saluran gastrointestinal menentukan tehnik operasi yang digunakan untuk mengendalikan kontaminasi. Pada umumnya, kontaminasi peritoneum yang terus menerus dapat dicegah dengan menutup, mengeksklusi, atau mereseksi viskus yang perforasi. Manajemen peritonitis tergantung dari diagnosis penyebabnya. Hampir semua penyebab peritonitis memerlukan tindakan pembedahan (laparotomi eksplorasi). Pertimbangan dilakukan pembedahan antara lain : 1- Pada pemeriksaan fisik didapatkan defans muskuler yang meluas, nyeri tekan terutama jika meluas, distensi perut, massa yang nyeri, tanda perdarahan (syok, anemia progresif), tanda sepsis (panas tinggi, leukositosis), dan tanda iskemia (intoksikasi, memburuknya pasien saat ditangani). 2- Pada pemeriksaan radiology didapatkan pneumo peritoneum, distensi usus, extravasasi bahan kontras, tumor, dan oklusi vena atau arteri mesenterika. 3- Pemeriksaan endoskopi didapatkan perforasi saluran cerna dan perdarahan saluran cerna yang tidak teratasi. 4- Pemeriksaan laboratorium. Terapi bedah bertujuan untuk mengeliminasi sumber infeksi, mengurangi kontaminasi bakteri pada cavum peritoneal dan pencegahan infeksi intra abdomen berkelanjutan. 
Diterbitkan di: 10 Agustus, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.